Categories
Ilmu Sosial

10 Faktor Penyebab Kepadatan Penduduk di Suatu Daerah

Yang dimaksud dengan kepadatan penduduk adalah perbandingan dari jumlah penduduk dibagi dengan luas wilayahnya. Kepadatan penduduk sendiri merupakan persoalan penting bagi sebuah negara karena dampaknya yang sangat besar terhadap kemajuan negara. Suatu negara biasanya membuat batas aman skala kepadatan penduduk di wilayahnya masing-masing. Misalnya 100 orang per 1 km². Jika jumlah penduduk melebihi batasan tersebut maka dapat menyebabkan terjadinya ledakan jumlah penduduk.

Seperti kita ketahui jumlah penduduk yang terlalu padat pada suatu wilayah akan membawa banyak dampak negatif baik bagi perekonomian di wilayah tersebut maupun kondusifitas lingkungan sosialnya. Efek buruk yang ditimbulkan dapat berkesinambungan. Misalnya karena jumlah penduduk yang terlalu padat di suatu wilayah maka lapangan pekerjaan yang tersedia tidak sebanding dengan banyaknya jumlah pencari kerja. Akibatnya akan muncul banyak pengangguran di wilayah tersebut.

Baca juga:

Demi mempertahankan kelangsungan hidupnya, para pengangguran tadi akan melakukan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada kondisi seperti ini akan rawan muncul berbagai aksi kriminal seperti pencurian dan penipuan. Dampak negatif lainnya adalah meningkatnya angka kemiskinan, kelaparan, kemacetan, dll. Maka dari itu sudah sepatutnya suatu negara memberikan perhatian serius pada masalah ini. Lalu apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya padat penduduk? Untuk kita ketahui bersama setidaknya ada 10 faktor penyebab kepadatan penduduk:

1.Faktor Kelahiran

Ini merupakan faktor utama dan yang paling berpengaruh langsung terhadap jumlah penduduk di suatu wilayah. Jumlah kelahiran yang lebih besar dari jumlah kematian di suatu daerah otomatis akan menambah jumlah penduduk dari waktu ke waktu. Di Indonesia sendiri banyak masyarakat yang beranggapan banyak anak banyak rejeki. Anggapan seperti ini dapat mendorong setiap pasangan suami istri untuk menambah jumlah anaknya dengan keyakinan itu akan meningkatkan perekonomian rumah tangga mereka. Padahal seperti kita ketahui kebutuhan hidup layak di masa kini sangatlah banyak.

Anak-anak tergolong kategori usia non-produktif yang artinya belum bisa bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Mau tak mau orang tualah yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Jika jumlah anak semakin banyak maka semakin bertambah banyak pula beban dan tanggung jawab yang harus dipenuhi orang tua. Maka dari itu pemerintah banyak menyiapkan berbagai program untuk mengendalikan angka kelahiran.

Contohnya di Tiongkok pemerintahnya menerapkan kebijakan satu anak. Artinya setiap pasangan suami istri yang memiliki jumlah anak lebih dari 1 maka akan dikenai denda uang senilai yang telah ditetapkan. Di Indonesia sendiri pemerintah gencar mensosialisasikan program KB (Keluarga Berencana) untuk mengendalikan angka kelahiran di wilayah Indonesia. Baca juga: Negara Dengan Angka Kelahiran Tertinggi.

2.Faktor Ekonomi

Faktor ekonomi juga menjadi salah satu pemicu terjadinya ledakan jumlah penduduk di suatu wilayah. Kondisi ekonomi yang lebih baik di suatu wilayah dapat menjadi daya tarik bagi seseorang untuk tinggal disana. Misalnya UMR di kabupaten A jauh lebih tinggi dibanding UMR di kabupaten B. Yang terjadi adalah orang-orang dengan usia produktif di kabupaten B akan banyak yang berpindah ke kabupaten A agar bisa mendapat upah kerja yang lebih besar. Ini akan menimbulkan ledakan jumlah penduduk di kabupaten A dengan tiba-tiba. Ledakan penduduk ini malah menyebabkan berkurangnya lapangan kerja di kabupaten A yang akhirnya dapat menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Dalam kasus seperti ini penting bagi masyarakat untuk memahami pentingnya berwirausaha dibanding mencari kerja.

Diperlukan juga peran pemerintah dan instansi terkait untuk mengelola potensi suatu wilayah. Misalnya sekolah bisa menanamkan karakter wirausaha pada para siswa lewat pendidikan kewirausahaan. Dengan demikian diharapkan kelak masyarakat di daerah tersebut dapat mengelola potensi wilayahnya sendiri sehingga tidak perlu mencari pekerjaan di daerah lain. Baca juga: Karakteristik Negara BerkembangKarakteristik Negara Maju.

3. Faktor Iklim dan Kondisi Alam

Iklim dan kondisi alam di suatu daerah dapat mempengaruhi potensi daerah tersebut untuk melakukan kegiatan ekonomi. Seperti kita ketahui di belahan dunia ini terdapat iklim dan kondisi alam yang berbeda-beda. Di Indonesia sendiri memiliki iklim tropis dan kondisi alam yang mendukung baik dari segi tanahnya yang subur maupun lautnya yang luas dan kaya ikan. Kondisi seperti ini menjadikan wilayah Indonesia cocok untuk mengelola pertanian maupun perikanan sehingga menarik bagi warga negara lain untuk pindah ke Indonesia.

Terbukti dalam sejarah sejak dahulu banyak bangsa asing yang berusaha menjajah Indonesia untuk meraup kekayaannya. Hingga sekarang pun masih banyak warga negara lain yang berusaha menetap di Indonesia agar bisa mendapat kesejahteraan hidup karena mungkin di negara asalnya kondisi alam dan iklimnya kurang mendukung kegiatan ekonomi. Maka dari itu diperlukan ketatnya pengawasan pemerintah terhadap jumlah imigran dari negara lain terutama imigran gelap agar jangan sampai menimbulkan ledakan jumlah penduduk. Baca juga: Iklim di Indonesia.

4. Faktor Sosial

Keadaan lingkungan sosial yang kondusif dan cenderung aman atau populer menjadi salah satu daya tarik bagi seseorang untuk menetap di suatu wilayah. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana upaya untuk menjaga keadaan kondusif tersebut tetap berlangsung meski jumlah pendatang baru di wilayah tersebut bertambah. Dalam hal ini diperlukan peraturan khusus dari pemerintah  setempat misalnya terkait pendataan atau ijin mendirikan bangunan. Baca juga: Negara Paling Aman di DuniaNegara Teramah di Dunia.

5. Faktor Bencana Alam

Terjadinya musibah berupa bencana alam di suatu daerah dapat mengakibatkan perpindahan penduduk dalam jumlah besar untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman hingga keadaan kembali normal. Hal ini memang bisa memicu ledakan penduduk untuk jangka pendak maupun jangka panjang. Namun diperlukan kebijaksanaan untuk menyikapinya. Pemerintah dapat menyiapkan anggaran khusus bencana alam dan juga menyiapkan sebuah lokasi evakuasi yang dilengkapi berbagai fasilitas untuk menjamin kesejahteraan pengungsi demi berjaga-jaga jika terjadi bencana alam sewaktu-waktu. Baca juga: Prinsip Penanggulangan BencanaPenyebab Banjir dan Tanah Longsor.

6. Faktor Krisis Keamanan

Jika terjadi krisis keamanan di suatu daerah baik itu skala regional maupun nasional maka dapat menyebabkan perpindahan penduduk dalam skala besar untuk mencari lokasi aman hingga konflik mereda. Misalnya saat terjadi perang atau pemberontakan. Bisa juga karena terjadinya bentrok antar suku atau etnis. Hal seperti ini banyak terjadi di dunia. Yang terbaik adalah dengan melakukan pencegahan terhadap hal-hal yang bisa memicu konflik yang mengakibatkan krisis keamanan. Baca juga: Negara Yang Ditakuti Amerika.

7. Faktor Kayakinan/Agama

Ajaran setiap agama berisi perintah dan larangan demi kebaikan dan keselamatan penganutnya. Ada pensucian suatu tempat atau wilayah dan juga tuntunan untuk menuju tempat tersebut dalam rangka ibadah. Karena itu memang bagian dari ajaran agama maka setiap penganut agama pasti akan berusaha menjalankannya. Memang hal ini bisa menjadi penyebab bertambahnya jumlah penduduk di suatu daerah, namun umumnya hanya bersifat jangka pendek. Yang dibutuhkan adalah kebijakan pemerintah dengan mengikutsertakan para tokoh agama untuk berupaya tetap menjaga kondusifitas wilayah selama berlangsungnya kegiatan ibadah tersebut. Contoh kasusnya, banyak muslim dari berbagai penjuru dunia berbondong-bondong ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Baca juga: Negara Islam Terbesar di Dunia.

8. Faktor Adat/Budaya

Adat/budaya juga dapat mempengaruhi seseorang atau sekelompok orang untuk berpindah ke daerah lain. Adanya sanksi adat ataupun sanksi sosial bagi orang yang tidak mengikuti adat tersebut berupa cibiran atau pengucilan juga menjadi pendorong seseorang untuk tetap menjalankan adat tersebut. Di daerah tertentu seperti di pedesaan hal seperti ini masih banyak terjadi dimana seseorang dituntut untuk merantau mencari penghidupan ke daerah lain seperti perkotaan.

Dalam menyikapi hal ini perlu sosialisasi dari pemerintah kepada tokoh adat untuk mencari jalan tengah. Misalnya seseorang hanya merantau minimal 6 bulan setelah itu ia boleh kembali ke daerah asalnya untuk mengembangkan potensi lokal. Contoh kasusnya adalah budaya merantau dari Minang (Sumatra Barat) dan kebiasaan warga pedesaan untuk merantau ke perkotaan. Baca juga: Negara Termaju di Dunia.

9. Faktor Kebijakan Instansi

Baik instansi pemerintah ataupun swasta memiliki kebijaksanaannya masing-masing. Kebijaksanaan itu tentunya bertujuan untuk memberikan manfaat positif. Namun adakalanya kebijakan tersebut malah memberikan dampak yang sebelumnya tidak diharapkan. Misalnya kebijakan sebuah perusahaan swasta yang mengharuskan pegawainya berdomisili di daerah yang masih satu kabupaten dengan letak perusahaan tersebut. Semula tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya karyawan datang terlambat karena alasan transportasi. Namun tanpa disadari jumlah penduduk di Kabupaten tersebut meningkat pesat karena banyak karyawan yang semula berasal dari luar kabupaten terpaksa menetap di kabupaten tersebut. Baca juga: Negara Termiskin di di Asia.

10. Faktor  Moment Tertentu

Sebuah moment seperti hari raya, tahun baru dan akhir pekan bisa mendorong banyak masa untuk berpindah tempat. Meski biasanya hanya bersifat sementara waktu, namun kegiatan ini bisa berlangsung berulang-ulang setiap kali moment tersebut berlangsung. Karena sifatnya yang sementara tampaknya faktor ini tidak akan berdampak terlalu parah terhadap jumlah penduduk di suatu daerah. Namun demikian pemerintah juga tetap harus memperhitungkannya dan membuat berbagai persiapan untuk menjaga kondusifitas selam berlangsungnya moment tersebut. Baca juga: Negara Maju dan Negara Berkembang di Dunia.

Itulah beberapa faktor penyebab kepadatan penduduk. Memang tak selamanya jumlah penduduk yang banyak selalu berdampak negatif. Karena dengan pengolahan kualitas SDM yang baik ditambah kebijakan pemerintah yang tepat maka jumlah penduduk yang banyak dapat memberikan keuntungan tersendiri seperti menambah pemasukan devisa, memperkuat kekuatan suatu negara dan menciptakan suatu masyarakat yang modern.

Namun alangkah baiknya jika populasi penduduk tetap terkontrol pada batasnya sehingga tercipta suasana kondusif dan pemerataan ekonomi di setiap daerah. Itu semua hanya bisa terwujud dengan pemahaman yang benar pada masyarakat dan peran serta pemerintah untuk mengatur penduduknya. Semoga dengan membaca artikel ini kita semua bisa menyadari betapa pentingnya menjaga stabilitas jumlah penduduk di suatu daerah.