Categories
Laut

Erosi Pantai : Pengertian, Penyebab dan Dampaknya

Erosi pantai atau yang sering juga disebut dengan abrasi pantai merupakan pengikisan daratan pantai akibat aktivitas arus, gelombang dan pasang- surut air laut. (baca : Manfaat Pasang Surut Air Laut)

Ada banyak hal yang menyebabkan terjadinya erosi pantai, diantaranya adalah :

  • Faktor alam. Fenomena alam yang menyebabkan erosi pantai yakni pasang surut air laut dan juga tiupan angin laut yang menghasilkan gelombang serta arus laut yang kuat.
  • Penurunan permukaan tanah. Pengambilan air tanah yang berlebihan mengakibatkan turunnya permukaan tanah sehingga daratan menjadi lebih rendah dari lautan. Hal ini tentu meningkatkan resiko terjadinya banjir rob akibat meluapnya air laut ke daratan. (baca : Ciri – Ciri Air Tanah Permukaan)
  • Kerusakan hutan mangrove. Masyarakat pesisir pantai menebang hutan mangrove untuk dijadikan pertambakan. Selain itu, kayu- kayu dari pohon mangrove juga dijual dan dijadikan pondasi bangunan. Kegiatan tersebut sangat mengganggu regenerasi dan menghambat proses suksesi hutan mangrove. Hal ini juga menyebabkan terjadi abrasi, dan hilangnya beberapa ekosistem pulau.
  • Kerusakan akibat kegiatan manusia. Aktivitas manusia yang menjadi penyebab erosi pantai yaitu dalam bentuk penambangan pasir, pencemaran sampah anorganik dan penambangan terumbu karang.
  • Perubahan iklim global atau yang sering disebut dengan pemanasan global. Meningkatnya suhu bumi menyebabkan mencairnya es di kutub. Ketika es di kutub mencair secara signifikan maka akan menyebabkan naiknya permukaan air laut sehingga akan menggerus daratan yang rendah seperti pantai. (baca : Penyebab Pemanasan Global)

Erosi pantai dengan tingkat kerusakan yang cukup tinggi mempunyai dampak bagi pelestarian lingkungan, kehidupan sosial ekonomi, dan kesehatan masyarakat pesisir pantai.

Dampak Terhadap Lingkungan

  1. Penyusutan area pantai. Menyempitnya daerah pantai adalah dampak dari erosi pantai yang paling jelas terlihat. Ombak laut yang tidak bisa diredam dan begitu keras menghantam daerah pantai membuat bebatuan dan tanah terpisah dari daratan sehingga memunculkan genangan air. Arus laut yang biasa digunakan nelayan untuk berangkat dan pulang melaut terlihat sangat membahayakan. Gelombang ombak pantai yang biasanya memberi pemandangan dan suasana indah di pinggir pantai kemudian menjadi mengerikan. Hal tersebut tentu merugikan sektor pariwisata dan juga secara langsung membahayakan keberlangsungan hidup penduduk di sekitar pantai yang memilik rumah atau ruang usaha. (baca : Manfaat Pantai)
  2. Rusaknya hutan mangrove. Penanaman hutan mangrove yang sebenarnya ditujukan untuk menangkal dan mengurangi resiko erosi pantai juga berpotensi gagal total jika abrasi pantai sudah tidak bisa ditanggulangi. Pada umumnya hal ini terjadi saat ‘musim’ badai tiba, yakni saat keseimbangan ekosistem pantai sudah benar-benar rusak ataupun saat laut sudah kehilangan sebagian besar dari persediaan pasirnya. Jika hal tersebut terjadi, maka diperlukan penanganan yang lebih intensif karena keberadaan hutan mangrove masih cukup efektif untuk mengurangi resiko erosi pantai. (baca : Fungsi Hutan Mangrove)
  3. Hilangnya tempat berkumpul ikan perairan pantai. Terkikisnya daerah pantai yang diawali gelombang dan arus laut yang destruktif serta kegiatan penambangan terumbu karang menyebabkan ikan perairan pantai kehilangan habitatnya. Ketika kehilangan tempat hidupnya, ikan-ikan pantai akan kebingungan mencari tempat berkumpul sebab mereka tidak bisa mendiami perairan laut dalam karena adanya ancaman predator ataupun suhu yang tidak sesuai dan gelombang air laut yang terlalu besar. Akibat terburuknya dari semua hal tersebut adalah matinya ikan-ikan pantai sehingga merugikan nelayan yang mendiami daerah pantai tersebut. (baca : Fungsi Ekosistem Terumbu Karang)

Dampak Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat

Erosi pantai berdampak pada perubahan sosial ekonomi masyarakat pesisir pantai. Masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani mulai beralih ke mata pencaharian lain. Air laut yang naik ke darat membuat air tanah menjadi asin dan tidak dapat digunakan untuk bercocok tanam. Selain itu, lahan pertanian yang tergenang oleh air laut tidak dapat digunakan untuk bertani lagi sehingga banyak petani yang beralih profesi menjadi nelayan. Tak sedikit pula petani yang beralih ke bidang pertambakan. Semakin luasnya daerah yang terkena abrasi  mengakibatkan tambak tidak dapat dipertahankan. Tambak milik penduduk seringkali gagal panen karena terjangan gelombang ombak yang besar. Kepala keluarga yang menghidupi keluarganya lewat tambak ikan kemudian beralih menjadi buruh pabrik atau buruh bangunan. Bahkan banyak pula yang akhirnya menganggur dan menggantungkan kehidupan ekonominya pada anggota keluarga yang lain.

Tingginya kebutuhan hidup memunculkan mata pencaharian baru di sektor perdagangan dan pengelolaan hutan mangrove. Perdagangan dapat menunjang pariwisata bahari di daerah pesisir. Masyarakat membuka warung- warung yang menjual makanan untuk wisatawan yang berlibur di pantai. Ada pula yang menawarkan jasa penyewaan perahu yang dapat digunakan wisatawan untuk berkeliling di sekitar hutan mangrove. (baca : Manfaat Hutan Mangrove)

Selain kehilangan lahan pertanian dan pertambakan yang berujung pada kehilangan mata pencaharian, abrasi juga membuat masyarakat kehilangan tempat tinggal. Daratan yang terus tergerus air laut memaksa penduduk untuk pindah ke tempat yang lebih tinggi. Ada juga yang masih bertahan tetap tinggal di tepi pantai dengan cara meninggikan pondasi rumah atau membuat rumah panggung di atas rumah utama mereka. Hal tersebut dilakukan karena hanya itulah satu- satunya lahan dan tempat tinggal yang mereka miliki. Selain itu, mereka yang berprofesi sebagai nelayan enggan untuk direlokasi jauh dari pantai. Mereka tetap bertahan tinggal di tepian pantai meski sebenanya kurang sesuai untuk pemukiman. Pada akhirnya tak sedikit penduduk yang masih memiliki surat tanah, akan tetapi lahan yang dulu mereka tempati sudah menjadi laut.

Dampak Terhadap Kesehatan Masyarakat

Erosi pantai menyebabkan air laut masuk ke sumber- sumber air masyarakat pesisir pantai. Hal tersebut mempengaruhi salinitas atau tingkat kadar garam yang terlarut dalam sumber- sumber air tanah. Dampak pencemaran air tersebut yakni turunnya kualitas kesehatan masyarakat. Penurunan kualitas kesehatan tersebut dapat dilihat dari timbulnya berbagai macam penyakit yang diderita oleh masyarakat pesisir, diantaranya adalah :

  • Penyakit kulit. Air laut yang tercampur ke sumber- sumber air penduduk pesisir pantai sering kali tercemari oleh limbah. Padahal sumber- sumber air tersebut digunakan oleh masyarakat pesisir pantai untuk keperluan sehari- hari seperti mandi dan mencuci. Hal tersebut tentu dapat menyebabkan penyakit kulit bagi masyarakat pesisir. (baca : Menjaga Sumber Air)
  • Penyakit saluran pencernaan. Air tanah yang sudah tidak sehat, apabila dikonsumsi akan menimbulkan penyakit pencernaan seperti sakit perut, disenteri, diare dan lain sebagainya. Hal tersebut dapat diperparah dengan buruknya sanitasi masyarakat.
  • Gangguan fungsi ginjal. Indikasi gangguan fungsi ginjal pada masyarakat pesisir perlu diwaspadai mengingat sumber- sumber air yang sudah tercemari limbah. (baca : Pencemaran Lingkungan)