Categories
Meteorologi

Awan Cumola Nimbus : Pengertian Proses, Jenis dan Bahayanya

Awan cumola nimbus adalah jenis awan yang masuk dalam kategori awan dengan perkembangan vertikal seperti awan cumulus. Awan cumola nimbus ini menjulang tinggi ke atas, bentuknya padat dan awan ini memiliki hubungan dengan badai petir dan cuaca dingin. Awan cumola nimbus ini terbentuk karena ketidakstabilan di lapisan atmosfer. Pada dasarnya dapat terbentuk sendiri, penyebarannya secara berkelompok atau disepanjang front dingin di garis squall. Awan ini adalah salah satu awan yang dapat menciptakan petir melalui jantung awan. Awan cumola nimbus juga awan yang terbentuk dari awan cumulus dan dapat berkembang menjadi supercell, yaitu badai yang ditandai adanya mesosiklan, yaitu pusaran udara dalam badai konvektif. ( baca : Proses Terjadinya Badai Matahari )

Dasarnya, awan ini memiliki lebar hingga beberapa kilometer, pada bagian dasar awan umumnya terbentuk pada saat berada di ketinggian 500-13000 kaki (200-4000 m) dan pada bagian atas puncaknya mencapai ketinggian 20000-75000 kaki (6000-23000 m)

Jenis Cumola Nimbus

Berikut adalah beberapa jenis cumola nimbus :

  1. Cumola Nimbus Arcus
    Cumola nimbus arcus pada dasarnya disebut sebagai awan badai. Awan jenis ini bisa memberikan hujan, hujan es atau salju dan biasanya sangat tebal. Awan ini dapat memanjang hingga 10 mil, sehingga banyak yang mengindikasikan bahwa awan ini adalah raja diantara awan lain.
  2. Cumola Nimbus Calvus
    Cumola nimbus calvus adalah awan yang cukup tinggi dalam perkembangan vertikalnya yang mampu menghasilkan curah hujan tinggi pula. Awan ini berkembang dari awan cumulus congetus dan apabila proses perkembangannya cukup baik maka akan menghasilkan awan cumola nimbus incus.
  3. Cumola Nimbus Capillatus
    Cumola nimbus capillatus adalah awan yang terbentuk setelah mencapai batas tingkat stabilitas lapisan stratosfer dan juga telah membentuk karakteristik datar yang berasal dari bentuk awan cirrus yang padat dimana awan tersebut muncul dengan bentuk struktur seperti rambut.
  4. Cumola Nimbus Incus
    Cumola nimbus incus adalah awan yang terbentuk sama seperti cumola nimbus capillatus dan juga terbentuk dari perubahan awan nimbus calvus. Sama seperti yang lainnya, awan ini juga awan yang dapat menghasilkan badai dan petir.
  5. Cumola Nimbus Mammatus
    Cumola nimbus mammatus adalah awan yang sering disangkut pautkan hubungannya dengan badai petir. Awan ini sering memperpanjang dasar dari awan cumola nimbus, namun dapat ditemukan di bawah awan alto cumulus, awan alto stratus, awan strato cumulus dan awan cirrus serta awan abu vulkanik. Awan ini dapat digunakan sebagai indikasi akan terjadinya badai yang kuat bahkan badai tornado.
  6. Cumola Nimbus Plannus
    Cumola nimbus plannus adalah merupakan awan bagian dari formasi awan cumola nimbus yang sering naik pada ketinggian yang bahkan bisa mencapai hingga 12 km.
  7. Cumola Nimbus Pileus
    Cumola nimbus pileus adalah awan yang sangat cepat dalam berubah bentuk. Awan ini dibentuk oleh updraft yang kuat pada ketinggian yang lebih rendah. Awan ini juga memiliki kelembapan yang sangat tidak stabil. Awan ini dapat menyebabkan cuaca menjadi buruk dan dapat menjadi indikator bahwa badai akan datang. Awan ini juga menandakan akan datangnya angin kencang yang sifatnya merusak.
  8. Cumola Nimbus Tuba
    Cumola nimbus tuba adalah awan khusus yang terbentuk atas dasar awan cumola nimbus. Pada dasar awan terdapat bentuk corong atau kerucut yang terkadang dapat berkembang menjadi tornado atau angin puyuh.
  9. Cumola Nimbus Velum
    Cumola nimbus velum adalah awan bagian cumola nimbus yang memiliki lapisan kecil dari awan alto stratus yang mengelilingi daerah tengahnya saat udara lembab stabil yang diciptakan sebagai hasil pertumbuhan dari induk awan cumola nimbus. Awan ini terlihat lebih gelap daripada awan cumola nimbus dan dapat bertahan setelah cumola nimbus pecah. Awan ini jarang sekali ditemukan.
  10. Cumola Nimbus Virga
    Cumola nimbus virga adalah sebagai awan yang dapat mengindikasikan akan terjadi hujan. Dimana warna awan ini adalah abu-abu seperti ketika akan terjadi hujan. ( baca : Ciri-ciri Hujan )\

Proses terjadinya Awan Cumola Nimbus

Berdasarkan prosesnya, awan cumola nimbus dibagi menjadi 3 proses, yaitu :

  • Proses yang Dibawa Oleh Angin – Proses yang dimaksud disini adalah awan cumola nimbus yang terbentuk ketika angin membawa beberapa awan kecil cumola nimbus ke tempat berkumpulnya awan jenis ini.
  • Proses Penyatuan Awan-awan Kecil – Proses ini adalah lanjutan dari proses pertama, yaitu ketika kumpulan awan kecil tersebut dibawa oleh angin dan bersatu menjadi awan yang lebih besar.
  • Proses Penumpukan Awan – Proses terakhir adalah ketika awan kecil bersatu, maka dorongan ke atas pada bagian dalam awan semakin besar dan meningkat. Dengan adanya dorongan ke atas pada bagian tengah awan lebih kuat dibandingkan pada bagian pinggi maka hasilnya adalah tubuh awan akan tumbuh semakin besar secara vertikal sehingga seolah-olah awan ini mengalami penumpukan.

Pertumbuhan ke atas ini menjadikan tubuh awan mencapai di daerah yang lebih dingin daripada lapisan atmosfer bagian atas. Akibatnya terbentuklah tetesan-tetesan air atau butiran es. Apabila tetesan air atau es ini lebih besar dan lebih berat daripada dorongan ke atas yang menyangganya, maka jatuhlan air atau es ini sebagai hujan atau bahkan hujan es. ( baca : Manfaat Hujan )

Proses Terjadinya Petir

Awan cumola nimbus sering disebut sebagai awan pembawa hujan, badai dan petir. Lalu bagaimanakah proses terjadinya petir tersebut ? Berikut penjelasannnya :

Petir terjadi karena akibat perpindahan muatan negatif (elektron) menuju muatan positif (proton). Para ilmuan yang pernah melakukan percobaan menduga bahwa lompatan bunga api listriknya sendiri terjadi melalui beberapa tahapan.

Pertama adalah pemampatan muatan listrik pada awan cumola nimbus. Pada umumnya akan menimpuk di bagian paling atas awan adalah listrik muatan negatif, sedang dibagian tengah adalah listrik muatan positif dan bagian dasar adalah muatan negatif yang berbaur dengan muatan positif. Pada bagian bawan inilah petir biasa terjadi.

Artikel terkait : Cara Menghindari Sambaran Petir

Beberapa catatan mengenai terjadinya petir, bahwa petir bisa saja terjadi antara hal-hal berikut :

  • awan dengan awan
  • dalam awan itu sendiri
  • ketika awan menguap ke udara
  • awan dengan tanah
  • adanya besar medan listrik minimal yang memnungkikkan terjadinya petir ini adalah sekitar 1.000.000 volt per meter

Bahaya Awan Cumola Nimbus

Awan ini adalah satu-satunya awan yang ditakuti bahkan sangat ingin dihindari dalam dunia penerbangan. Alasannya adalah bahwa awan ini dapat menghasilkan petir atau bahkan sampai badai tornado sehingga hal ini sangat membahayakan dalam dunia penerbangan. Sampai saat ini masih menjadi permasalahan yang masih dibahas.

Dalam dunia penerbangan, pesawat tidak boleh terbang masuk ke dalam bagian awan cumola nimbus ini karena apabila pesawat masuk dalam bagian awan ini maka yang terjadi adalah pesawat akan mengalami turbulensi hebat. Turbulensi adalah guncangan yang terjadi di pesawat yang disebabkan oleh benturan massa udara yang datang dengan kecepatan yang tinggi dari berbagai arah sehingga pesawat mengalami guncangan bahkan seperti dihempaskan.

Komposisi yang terdapat di awan ini dapat membuat mesin pesawat mati, bahkan hingga hilang kendali dan dapat menyebabkan kecelakaan. Beberapa kasus jatuhnya pesawat ketika cuaca buruk sebagian besar disangkut pautkan dengan awan cumola nimbus ini.

Artikel terkait : Penyebab Angin Topan