Pengertian Longsor dan Penyebabnya

Pada musim penghujan sering terdengar berita tentang bencana longsor yang terjadi pada beberapa daerah di Indonesia maupun di mancanegara.  Agar kita dapat menghindari bencana longsor, maka kita perlu tahu  cara mencegah tanah longsor. Sebelum membahas pencegahan bencana longsor, kita harus mengetahui apa yang dimaksud dengan longsor dan apa saja faktor yang menyebabkan terjadinya tanah longsor. Berikut ini adalah penjelasan tentang pengertian longsor beserta penyebabnya.

Tanah Longsor

Pengertian longsor menurut Crude (1991) yaitu suatu kejadian atau peristiwa geologi yang disebabkan oleh pergerakan massa batuan, tanah atau puing- puing yang menuruni suatu lereng. Sedangkan Vernes (1978) mengartikan longsor sebagai pergerakan material ke bawah dan ke luar lereng karena pengaruh dari gravitasi. Longsor yang lebih dikenal dengan tanah longsor (landslide) juga dapat didefinisikan sebagai perpindahan massa berbagai jenis batuan atau tanah yang tidak membutuhkan media berpindah seperti air atau udara.

Penyebab Longsor

Tanah longsor umumnya terjadi pada dataran tinggi atau pegunungan. Tetapi longsor bisa terjadi pada dataran yang relatif rendah. Longsor di daerah rendah tersebut disebabkan oleh penggalian jalan, runtuhnya galian tambang atau runtuhnya tebing sungai. Apa saja penyebab tanah longsor? Berikut adalah uraiannya.

  • Curah hujan yang tinggi – Penyebab pertama seringnya terjadi longsor adalah tingginya curah hujan. Tanah yang kering pada musim kemarau mempunyai banyak pori- pori atau rongga tanah. Rongga- rongga tanah tersebut akan membentuk retakan pada tanah. Ketika musim penghujan, air hujan akan memenuhi rongga tanah dan menyebabkan terjadinya pergeseran tanah. Jika tanah bergeser terus menerus maka akan terjadi longsor.
  • Sampah yang menumpuk – Sampah yang menumpuk di sungai akan menyebabkan banjir. Sedangkan sampah yang menumpuk di atas permukaan tanah kemudian terkena tekanan air hujan maka akan menimbulkan longsor (baca : Penyebab Banjir dan Tanah Longsor).
  • Adanya aktivitas seismik – Gempa bumi yang terjadi pada daerah berlereng terjal akan mengakibatkan dilatasi tanah. Apabila getaran gempa terus terjadi maka daerah gempa tersebut akan mengalami longsor (baca: Akibat Gempa Bumi).
  • Adanya aktivitas vulkanik – Salah satu penyebab terjadinya longsor adalah adanya aktivitas gunung berapi. Larva yang mencair mengakibatkan banjir lahar yang mengalir cepat ke permukaan lereng. Derasnya arus banjir lahar tersebut memicu terjadinya banjir bandang dan longsor, seperti yang terjadi pada letusan Gunung St. Helens di Washington. Longsor tersebut tercatat sebagai longsor karena aktivitas vulkanik paling dahsyat yang pernah terjadi (baca: Penyebab gunung meletus).
  • Hutan yang gundul – Hutan mempunyai peranan yang besar bagi kestabilan tanah. Apabila pohon- pohon besar di hutan ditebangi, maka struktur lapisan tanah menjadi labil karena tidak ada akar yang biasanya menguatkan tanah. Ketika curah hujan tinggi, kondisi tanah menjadi jenuh akan air hujan karena tidak ada pohon yang membantu menyerap air. Begitu besarnya dampak akibat hutan gundul. Jika hal tersebut terus dibiarkan maka akan mengakibatkan bencana tanah longsor (baca : Akibat Terjadinya Tanah Longsor).
  • Struktur bebatuan yang hancur – Batuan sedimen dan batuan endapan sangat mudah lapuk dan hancur menjadi tanah. Apa lagi jika batuan- batuan tersebut berada di lereng gunung, maka akan sangat rawan terjadi longsor.
  • Material yang menimbun lembah – Lahan permukiman yang semakin sempit di daerah dataran rendah telah memaksa masyarakat untuk membuat perumahan di dataran tinggi. Perumahan tersebut dibuat dengan cara memotong tebing dan menimbun lembah. Jika material yang digunakan untuk menimbun lembah tidak benar- benar padat, maka akan mudah terjadi longsor jika terkena aliran air hujan.
  • Bendungan yang menyusut – Menyusutnya air di danau, waduk atau bendungan mengakibatkan penurunan permukaan tanah. Permukaan tanah yang terus menerus turun akan memunculkan retakan dan mengakibatkan longsor.
  • Beban tanah yang berlebih – Perumahan dan bangunan yang dibangun di atas lereng memberi beban berlebih pada tanah. Tidak hanya bangunan, kendaraan berat yang melintasi jalan di lereng gunung juga menjadi beban berat bagi tanah. Jika struktur tanah yang mempunyai beban berat tersebut tidak diperkuat, maka akan menimbulkan longsor.
  • Adanya erosi tanah – Erosi tanah merupakan proses terkikisnya lapisan tanah oleh berbagai macam media seperti air, angin dan es. Erosi tanah yang terjadi pada tebing yang curam dan tidak mempunyai pohon sebagai penguat struktur tanah, dapat menyebabkan bencana longsor (baca : Cara Mencegah Erosi Tanah).

Jenis- Jenis Longsor

Terdapat beberapa tipe atau jenis jenis longsor. Berdasarkan jenis material longsoran, tanah longsor dikategorikan menjadi 5. Berikut adalah penjelasannya.

1. Slide

Tipe longsor yang pertama adalah tipe slide. Tipe ini dibagi lagi menjadi 3 jenis yaitu :

  • Rotational slide, yakni pergerakan massa batuan atau tanah yang berotasi pada satu sumbu yang sejajar pada permukaan tanah yang berbentuk cekung ke atas.
  • Translational slide, merupakan pergerakan massa batuan atau tanah dengan sedikit rotasi pada permukaan tanah yang datar.
  • Block slide, yaitu pergerakan yang hampir sama dengan translational slide, akan tetapi massa batuan atau tanah yang bergerak terdiri dari beberapa blok koheren.

2. Fall

Tipe longsor yang kedua yaitu fall. Fall merupakan pergerakan bongkahan batu yang jatuh dari lereng atau tebing yang curam secara tiba- tiba. Bongkahan batu tersebut terpental, menggelinding dan terjun bebas dari bagian atas lereng karena pengaruh gravitasi bumi atau pelapukan mekanik.

3. Topples

Topples adalah pergerakan batuan berupa perputaran ke depan pada suatu titik sumbu kemudian roboh ke daerah yang lebih rendah karena adanya pengaruh gravitasi bumi dan kandungan air pada rekahan batuan.

4. Flows

Berikutnya adalah tipe longsor yang bernama flows. Tipe ini dikelompokkan menjadi 5 kategori, yaitu :

  • Debris flow, merupakan pergerakan massa berupa campuran tanah gembur, bahan organik, batu, air dan udara yang mengalir pada permukaan lereng secara cepat.
  • Debris avalance, yakni longsornya es pada lereng yang terjal secara cepat.
  • Earthflow, adalah pergerakan dari material yang mengandung lempung atau tanah liat pada lereng yang penuh dengan air, sehingga membentuk cekungan ke atas.
  • Mudflow, yaitu pergerakan yang hampir sama dengan earthflow, akan proses terjadinya longsor tersebut lebih cepat.
  • Creep, yakni pergerakan massa batuan atau tanah pada suatu lereng secara bertahap dan lebih lambat.

5. Lateral spreads

Tipe longsor yang terakhir adalah lateral spreads, adalah perpindahan massa batuan atau tanah pada lereng yang landai atau relatif datar karena keadaan tanah yang sudah jenuh dengan air sehingga tanah berubah dari keadaan padat menjadi cair.