Categories
Biogeografi

15 Pelestarian Ekosistem Flora dan Fauna

Indonesia mempunyai berbagai jenis flora dan fauna yang berada di ekosistem darat maupun ekosistem air. Keberadaan flora dan fauna tersebut sering kali terancam karena beberapa faktor, seperti rendahnya tingkat reproduksi, bencana alam dan perilaku buruk manusia. Oleh karena itu, perlu dilakukan pelestarian ekosistem flora dan fauna agar tidak terjadi kepunahan (baca : Pengertian Flora dan Fauna). Pelestarian ekosistem tersebut dapat dilakukan dengan berbagai upaya. Berikut adalah penjelasannya.

Upaya Pelestarian Ekosistem

Perilaku buruk manusia seperti penebangan hutan, perburuan liar dan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan telah mengancam habitat atau ekosistem flora dan fauna. Manusia sebagai makhluk paling cerdas di bumi seharusnya menghilangkan perilaku buruk tersebut dan menggantinya dengan upaya pelestarian ekosistem. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk melestarikan ekosistem adalah :

  1. Menetapkan jenis- jenis hewan langka yang perlu dilindungi seperti komodo, orang utan, harimau sumatera, gajah, kanguru pohon, bajing terbang, siamang, macan kumbang, beruang madu, duyung, anoa, badak, tapir, banteng dan lain sebagainya. (baca : Flora dan Fauna yang Dilindungi di Indonesia)
  2. Mensosialisasikan jenis- jenis tumbuhan dan hewan langka kepada masyarakat agar terbangun kesadaran untuk melestarikan flora dan fauna langka tersebut. (baca : Cara Melestarikan Flora dan Fauna)
  3. Mengatur pemanfaatan hewan dengan cara melakukan perburuanhewan tertentu pada musim tertentu, serta membangun pusat studi dan budidaya hewan langka.
  4. Menetapkan tempat perlindungan bagi hewan dengan tujuan agar perkembangbiakan hewan tidak terganggu. Tempat perlindungan hewan tersebut dapat berupa suaka margasatwa.
  5. Membangun pusat rehabilitasi dan penangkaran hewan- hewan tertentu. Contoh tempat rehabilitasi hewan yang sudah ada di Indonesia yakni pusat rehabilitasi orang utan di Bahorok dan Tanjung Puting Sumatera, pusat rehabilitasi anoa dan babi rusa di Sulawesi dan hutan wanariset Samboja di Kalimantan Timur.
  6. Mencegah perburuan hewan liar dan menindak tegas pelakunya.
  7. Mengembalikan hewan langka yang dipelihara ke habitat aslinya dan mengawasi adanya ekspor hewan tertentu ke luar negeri.
  8. Menetapkan cagar alam sebagai kawasan tempat tumbuhnya berbagai jenis tumbuhan langka yang dilindungi. Contoh cagar alam di Indoensia adalah Taman Nasional Ujung Kulon di Jawa Barat, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur dan Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur. (baca : Cagar Alam di Indonesia beserta Flora dan Fauna yang Dilindungi)
  9. Mengatur pemanfaatan tumbuhan dengan cara menerapkan sistem tebang pilih dan budidaya tumbuhan.
  10. Mencegah pencurian kayu dan pembakaran hutan, serta menindak tegas para pelakunya.
  11. Melakukan reboisasi atau merehabilitasi lahan- lahan kritis yang menjadi tempat hidup flora dan fauna langka. (baca : Dampak Akibat Kerusakan Hutan)
  12. Menerapkan pembangunan berwawasan lingkungan, yakni pembangunan yang memperhatikan keseimbangan lingkungan ekosistem.
  13. Tidak mendatangkan hewan dan tumbuhan tertentu dari luar negeri karena populasinya dapat mengancam keseimbangan ekosistem yang ada di Indonesia.
  14. Melarang penangkapan ikan menggunakan bahan peledak dan alat lain yang membahayakan ekosistem laut terutama ekosistem terumbu karang. Selain itu dapat pula dilakukan pencegahan pemcemaran laut dan pesisir pantai untuk melindungi ekosistem pantai.
  15. Melakukan bioremediasi, yakni memurnikan bahan- bahan berbahaya menjadi molekul- molekul yang tidak berbahaya bagi ekosistem.

Penghambat Proses Pelestarian Ekosistem

Meski ada berbagai usaha untuk melestarikan ekosistem, akan tetapi perlu diketahui apa saja faktor penghambat proses pelestarian ekosistem. Hal tersebut bertujuan agar upaya pelestarian ekosistem dapat dilakukan secara optimal. Berikut adalah faktor- faktor yang bisa menghambat proses pelestarian ekosistem.

  1. Hujan asam

Hujan asam merupakan jenis hujan dengan tingkat keasaman lebih tinggi dari hujan biasa. Hal tersebut terjadi karena uap air di awan dapat bercampur dengan polutan udara seperti karbon dioksida, nitrogen oksida dan sulfur (baca : Penyebab Pencemaran Udara). Proses terjadinya hujan asam ini dimulai polutan udara yang bercampur dengan uap air di atmosfir. Polutan udara tersebut akan larut ke dalam titik – titik air di awan lalu bergabung menjadi air hujan.

Air hujan tersebut mengandung asam karbonat lemah yang kemudian melarutkan kandungan kadungan potasium, kalsium dan nutrisi lain dari tanah, sehingga tanah menjadi kurang subur dan membuat tumbuhan mati. Jaringan tumbuhan yang terkena hujan asam akan rusak dan mengganggu pertumbuhan tanaman itu sendiri. Jika hujan asam tersebut turun pada permukaan danau atau waduk, maka akan mengganggu ekosistem waduk tersebut. Kandungan PH pada air danau akan menurun di bawah normal dan akan meracuni ikan serta penghuni danau yang lain.

  1. Efek rumah kaca

Proses terjadinya efek rumah kaca diawali dengan cahaya matahari yang dipantulkan dinding kaca kembali ke atmosfer. Akan tetapi sebelum sampai ke lapisan atmosfer, sinar matahari tersebut terperangkap oleh gas karbondioksida atau gas rumah kaca yang partikelnya berada diantara bumi dan lapisan atmosfer. Hal tersebut menyebabkan cahaya matahari terpantul kembali ke bumi sehingga suhu bumi menjadi tinggi. Suhu bumi yang terus meninggi tersebut merupakan penyebab pemanasan global yang berdampak buruk bagi ekosistem yang ada di bumi. (baca : Penyebab Penipisan Lapisan Ozon dan Efek Rumah Kaca)

  1. Polusi tanah

Polusi tanah disebabkan oleh limbah yang sulit terurai atau bahkan tidak dapat diurai oleh tanah. Limbah tersebut berasal dari sampah anorganik seperti plastik, besi, sterofoam, aluminium dan sebagainya. Selain sampah anorganik, limbah juga berasal dari penggunaan bahan kimia seperti pestisida yang berlebihan sehingga mengganggu kesuburan tanah. Jika kesuburan tanah terganggu, maka tanaman tidak bisa tumbuh dengan baik.

  1. Polusi air

Air merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi setiap makhluk hidup. Tanpa air, kelangsungan hidup akan terancam sebagaimana polusi air mengancam ketersediaan air bersih. Polusi air ini dapat disebabkan oleh bahan- bahan kimia berbahaya yang terbawa oleh air hujan dan larut ke aliran sungai. Selain bahan kimia berbahaya, polusi air juga disebabkan perilaku buruk manusia yang membuang sampah sembarangan. Perilaku tersebut tentu merusak sumber daya air dan dapat mengakibatkan bencana banjir.

Manfaat Pelestarian Ekosistem

Pelestarian ekosistem sebenarnya bermanfaat bagi kelangsungan makhluk hidup itu sendiri, baik manusia, hewan maupun tumbuhan. Terutama bagi manusia, keberadaan hewan dan tumbuhan bermanfaat bagi kebutuhan sandang, pangan dan papan. Bahan makanan yang dikonsumsi manusia hampir seluruhnya berasal dari hewan dan tumbuhan. Manusia memerlukan protein hewanni dan lemak yang bisa didapat dari daging hewan.

Manusia juga mebutuhkan karbohidrat dan berbagai macam vitamin yang bisa ditemukan pada berbagai jenis tumbuhan. Pada musim dingin, manusia memerlukan jaket yang melindunginya dari hawa dingin, jaket tersebut juga diperoleh dari kulit atau bulu hewan. Bumi tempat tinggal manusia juga bergantung pada adanya flora dan fauna. Jika pupulasi flora dan fauna berkurang maka akan mengganggu keseimbangan ekosistem dan dapat menyebabkan terjadinya bencana alam. Oleh karena itu, manusia harus berusaha melestarikan ekosistem flora dan fauna demi kebaikan hidup manusia itu sendiri.