Categories
Bencana Alam

4 Cara Melakukan Mitigasi Bencana Angin Topan

Dahulu jauh sebelum ilmu pengetahuan dan teknologi ditemukan, banyak orang menganggap bahwa bencana alam adalah bentuk kemarahan alam terhadap manusia. Tidak heran jika dahulu orang – orang akan mengadakan upacara persembahan guna menghindari diri dari marabahaya. Seperti contoh saat sebuah gunung berapi mengeluarkan debu vulkanik, justru warga yang tinggal di sekitar gunung tersebut akan tetap bertahan dan menganggap hal tersebut suatu peristiwa yang tidak perlu dipikirkan. Hingga sampailah pada tahap gunung mengalami erupsi, dan warga di sekitar gunung tidak sempat menyelamatkan diri. Mengapa bisa demikian? Hal ini tentu berkaitan dengan ilmu pengetahuan tentang mitigasi bencana alam yang sangat minim serta belum adanya teknologi yang mendukung saat itu.

Namun seiring berjalannya waktu pengetahuan tentang bencana alam terus dipelajari hingga akhirnya ditemukan cara untuk mengurangi bahkan mencegah kerugian yang bisa ditimbulkan akibat bencana alam. Seperti yang kita ketahui jika bencana alam ada beragam jenisnya, dan sudah tentu cara yang dilakukan mulai dari pencegahan, saat menhadapi bencana hingga setelah terjadi bencana memiliki cara yang berbeda pula. Segala rangkaian upaya mengurangi resiko bencana alam baik dengan melakukan pembangunan fisik maupun penyadaran terhadap bencana alam disebut sebagai mitigasi bencana. Tentunya mitigasi tersebut berbeda – beda tergantung dari jenis bencana alam yang dihadapi seperti mitigasi bencana banjir dan juga cara melakukan mitigasi gempa bumi.

Di Indonesia, bencana alam bukan sesuai yang baru dihadapi, terutama ketika memasuki pergantian musim atau pancaroba. Salah satu dampak yang diakibatkan oleh perubahan tersebut yaitu cuaca ekstrim seperti banjir dan tanah longsor. Bahkan bencana alam yang juga harus diwaspadai keberadaannya yaitu angin topan. Angin topan yaitu sebuah pusaran angin yang sangat kencang dengan kecepatan angin bisa mencapai 120 km/jam bahkan lebih dan sering terjadi di wilayah tropis antara belahan bumi utara dan selatan, kecuali daerah yang dekat dengan garis khatulistiwa. Angin topan ini pernah menerjang kota Busan di Korea Selatan dan dampak yang ditimbulkan dari angin topan ini yaitu terhambatnya jalur transportasi udara maupun laut, putusnya jalur telekomunikasi, rusaknya lahan pertanian hingga bangunan. Oleh sebab itu diperlukan penanggulangan atau mitigasi angin topan agar mengurangi dampak yang ditimbulkan. Lalu mitigasi apa yang harus dilakukan untuk menghadapi angin topan tersebut?

Salah satu tindakan yang selalu dilakukan dengan cara sosialisasi oleh Aksi Cepat Tanggap yakni Total Disaster Management. Total Disaster Management merupakan sebuah tindakan yang dilakukan dimulai dari sebelum bencana angin topan, ketika angin topan melanda, dan sesudah terjadinya angin topan. Berikut hal – hal yang perlu dilakukan dalam mitigasi bencana angin topan.

1. Tindakan Siap Siaga Bencana Angin Topan

Untuk masyarakat yang tinggal di daerah wilayah pesisir, bencana angin topan pasti akan sangat mungkin terjadi di sini. Sehingga hal yang perlu dipersiapkan sebelum menghadapi bencana angin topan yaitu:

  • Mengetahui resiko dan membuat rencana pengungsian. Hal ini diperlukan guna mengetahui bahaya sehingga cepat melakukan evakuasi, adalah kunci dari tindakan persiapan serta pencegahan bencana angin topan.
  • Melakukan latihan dengan melakukan penelusuran jalur evakuasi agar proses evakuasi dapat berjalan lebih cepat jika bencana terjadi.
  • Melakukan penguatan pada atap rumah dengan cara mengikatnya dengan baik.
  • Menyusun rencana berupa tindakan kapan harus bertindak ketika bencana angin topan terjadi? Jika diperlukan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengungsi? Serta apakah jalur evakuasi terlalu sulit sehingga perlu diubah?
  • Mempersiapkan seluruh kebutuhan yang diperlukan saat bencana angin topan terjadi. Jika peringatan bencana angin topan dibunyikan, setiap keluarga wajib menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan seperti alat penerangan (lilin dan lampu emergensi) serta makanan untuk jangka waktu minimal 3 hari.

2. Ketika Terjadi Bencana Angin Topan

Saat terjadi bencana angin topan, ada baiknya untuk berada di dalam rumah kecuali jika disarankan untuk mengungsi. Meskipun tidak ada anjuran, sebaiknya masyarakat tetap harus bersiap untuk mengungsi. Namun jika memilih untuk tinggal di dalam rumah, hal yang perlu dilakukan yaitu:

  • Semua barang kebutuhan harus siap sedia.
  • Tutup pintu dan jendela rumah.
  • Tinggallah di dalam satu ruangan yang paling aman di rumah atau jika memiliki ruang bawah tanah masuk ke dalam lebih baik.
  • Ada baiknya untuk mematikan segala bentuk aliran listrik, sumber api dan peralatan elektronik apapun.
  • Selalu dengarkan radio untuk mengetahui perkembangan informasi terbaru saat bencana angin topan.

3. Jika Terjadi Banjir

Bencana angin topan biasanya disertai dengan banjir. Jika daerah di sekitar tempat tinggal merupakan daerah rendah dan sering terjadi banjir ada baiknya segera mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Selalu waspada terhadap pusat angin tornado sebab bisa mencapai radius 30 – 50 km bahkan badainya sendiri mencapai 600 km. Pusat badai inilah yang biasanya membawa air hingga menyebabkan banjir di wilayah pesisir. Jika pusat badai telah lewat, biasanya akan terasa tenang dan tidak berawan, hal tersebut bukanlah  pertanda jika bencana angin topan telah berlalu. Selalu tetap tinggal di dalam rumah sampai informasi pemberitahuan bahwa angin topan telah berhenti.

4. Setelah Terjadi Bencana Angin Topan

  • Jangan memasuki wilayah yang terkena bencana angin topan sampai dinyatakan telah aman atau siaga 4. Ada banyak hal yang perlu dilakukan setelah bencana angin topan terjadi. Sehingga bagi yang tidak berkepentingan sebaiknya dilarang memasuki wilayah bencana.
  • Jangan menyalakan aliran listrik sampai dinyatakan aman dari bahaya. Gunakan lampu senter untuk memeriksa kerusakan. Hindari aliran listrik yang berasal dari kabel listrik di atas tanah.
  • Jika terlihat ada aliran listrik yang belum mati, segera matikan aliran listrik dari sekring atau tercium bau gas untuk segera memutus aliran gas. Perlu diperhatikan jika dalam melakukan hal tersebut hanya boleh dilakukan oleh orang yang paham dengan listrik dan gas.
  • Untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai bencana angin topan, selalu dengarkan radio yang menggunakan sumber energi batu baterai.

Demikian penjelasan mengenai mitigasi bencana angin topan. Semoga dapat bermanfaat.