Sponsors Link

Jenis Jenis Banjir – Pengertian – Penjelasan dan Penyebabnya

Sponsors Link

Banjir sebenarnya merupakan peristiwa terbenamnya daratan oleh air yang disebabkan oleh hal-hal tertentu. Yang mana air tersebut menggenangi daratan yang tadinya kering, bahkan merupakan tempat tinggal masyarakat. Tetapi akhir-akhir ini, fenomena banjir termasuk kategori bencana alam yang merugikan masyarakat dan pemerintak termasuk Indonesia.

Beberapa faktor yang mempengaruhi banjir sebenarnya berasal dari dua sisi, yaitu alam dan manusia sendiri. Faktor alam seperti gunung meletus misalnya, yang mengakibatkan banjir lahar. Sedangkan faktor lainnya seperti penebangan hutan liar misalnya, tak lain merupakan kesalahan dan keserakahan manusia sendiri.

Banjir pada akhir-akhir ini memang akrab sekali dikategorikan sebagai bencana alam karena merugikan masyarakat. Dari merusak bangunan tempat tinggal, mengganggu aktivitas sehari-hari hingga mendatangkan penyakit dan mendatangkan korban jiwa. Penyakit yang menjangkit masyarakat karena adanya banjir biasanya disebabkan karena air banjir sudah terkontaminasi atau tercampur dengan sampah, kotoran hewan dan juga manusia. Penyakit yang menjadi tren biasanya adalah diare, kolera, tipus, dan lainnya.

Jenis-Jenis Banjir

Peristiwa banjir yang terjadi tentunya bermacam-macam tergantung pada penyebabnya. Oleh karena itu, terjadinya banjir dilihat dari penyebabnya terbagi menjadi beberapa jenis,  antara lain:

  1. Banjir Air

Banjir air merupakan banjir yang sering sekali terjadi saat ini. Penyebab dari banjir ini adalah kondisi air yang meluap di beberapa tempat, seperti sungai, danau maupun selokan. Meluapnya air dari tempat-tempat tersebut yang biasanya menjadi tempat penampungan dan sirkulasinya membuat daratan yang ada di sekitarnya akan tergenang air. Banjir ini biasanya terjadi karena hujan yang begitu lama sehingga sungai, danau maupun selokan tidak lagi cukup untuk menampung semua air hujan tersebut.

  1. Banjir Cileuncang

Banjir ini sebenarnya hampir sama dengan banjir air. Tetapi banjir cileuncang ini terjadi karena hujan yang derat dengan debit/aliran air yang begitu besar. Sedemikian sehingga air hujan yang sangat banyak ini tidak mampu mengalir melalu saluran air (drainase) sehingga air pun meluap dan menggenangi daratan

  1. Banjir Rob (Laut Pasang)

Banjir laut pasang atau dikenal dengan sebutan banjir rob merupakan jenis banjir yang disebabkan oleh naiknya atau pasangnya air laut sehingga menuju ke daratan sekitarnya. Banjir jenis ini biasanya sering menimpa pemukiman bahkan kota-kota yang berada di pinggir laut, seperti daerah Muara Baru di ibukota Jakarta. Terjadinya air pasang ini di laut akan menahan aliran air sungai yang seharusnya menuju ke laut. Karena tumpukan air sungai tersebutlah yang menyebabkan tanggul jebol dan air menggenangi daratan.

  1. Banjir Bandang

Banjir bandang merupakan banjir yang tidak hanya membawa air saja tapi material-material lainnya seperti sampah dan lumpur. Biasanya banjir ini disebabkan karena bendungan air yang jebol. Sehingga banjir ini memiliki tingkat bahaya yang lebih tinggi daripada banjir air. Bukan hanya karena mengangkut material-material lain di dalamnya yang tidak memungkinkan manusia berenang dengan mudah, tetapi juga arus air yang terdakang sangat deras.

  1. Banjir Lahar

Banjir lahar merupakan jenis banjir yang disebabkan oleh lahar gunung berapi yang masih aktif saat mengalami erupsi atau meletus. Dari proses erupsi inilah nantinya gunung akan mengeluarkan lahar dingin yang akan menyebar ke lingkungan sekitarnya. Air dalam sungai akan mengalami pendangkalan sehingga juga akan ikut meluap merendam daratan.

  1. Banjir Lumpur

Banjir ini merupakan jenis banjir yang disebabkan oleh lumpur. Salah satu contoh identic yang masih terjadi sampai saat ini adalah banjir lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. Banjir lumpur ini hampir menyerupai banjir bandang, tetapi lebih disebabkan karena keluarnya lumpur dari dalam bumi yang kemudian menggenangi daratan. Tentu lumpur yang keluar dari dalam bumi tersebut berbeda dengan lumpur-lumpur yang ada di permukaan. Hal ini bisa dianalisa dari kandungan yang dimilikinya, seperti gas-gas kimia yang berbahaya.

Penyebab Banjir

Penyebab banjir dan tanah longsor bisa sangat beragam dan membahayakan keselamatan jiwa. Banjir bisa saja terjadi karena banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Secara umum, beberapa penyebab terjadinya banjir, antara lain:

  1. Air sungai yang meluap

Meluapnya air sungai yang terjadi merupakan salah satu faktor yang bisa menyebabkan terjadinya banjir. Meluapnya air sungai ini bisa saja disebabkan karena adanya pengendapan di dasar sungai. Endapan yang terjadi bisa disebabkan karena turunnya hujan dalam waktu yang cukup lama sehingga sungai kehilangan daya tampung terhadap air tersebut. Selainnya itu, bisa juga disebabkan karena adanya penyempitan permukaan aliran sangai sehingga air yang mengalir semakin terbatas.

  1. Banjir yang terjadi di muara

Banjir ini terjadi di bagian muara yang biasanya disebabkan oleh perubahan cuaca. Di mana pada keadaan tersebut terjadi proses naiknya/pasangnya air laut yang terkadang memancing terjadinya badai di lautan. Faktor badai inilah yang menjadi penyebab utama terjadinya banjir di kawasan muara. Badai tersebut biasanya adalah badai jenis siklon tropis atau siklon ekstratropis.

  1. Bencana alam

Banjir juga bisa terjadi karena adanya bencana alam. Sehingga banjir ini biasanya akan datang secara tiba-tiba tanpa bisa diprediksi sebelumnya. Bencana alam yang bisa saja menyebabkan terjadinya banjir ini, antara lain gempa bumi, gunung meletus hingga menyebabkan banjir lahar maupun karena adanya tanggul yang jebol, seperti yang terjadi pada tahun 2009 di Situ Gintung.

Baca : Penyebab tsunami – fungsi danaufungsi hutan lindungfungsi air hujan – fungsi hutan bakau

  1. Air laut yang meluap

Meluapnya air laut yang terjadi sehingga menyebabkan banjir biasanya terjadi karena ada beberapa faktor yang mendahuluinya terlebih dahulu. Contohnya dengan adanya pasang air laut sehingga air laut tersebut meluap ke daratan yang ada di sekitarnya, adanya gempa bumi sehingga menyebabkan tsunami, seperti yang terjadi di Aceh, dan berbagai kejadian lainnya, seperti badai.

Ada dua peristiwa yang terjadi sehingga menyebabkan air laut meluap dari terjadi tingginya air pasang (spring tide), antara lain:

  • Pengaruh perigeedan apogee

Suatu kekuatan gravitasi sebuah benda selalu ditentukan oleh jarak. Begitu pula gaya gravitasi bulan, besar gravitasinya bergantung pada jarak dari bulan (orbit bulan) ke pusat inti bumi. Di mana jarak antara bulan dan bumi selalu berubah karena orbit bulan yang berbentuk elips. Jarak terjauh antara bulan dan pusat bumi saat melakukan revolusi mengelilingi bumi pada orbitnya inilah yang disebut apogee. Sedangkan jarak terdekatnya yang disebut perigee.

Ketika posisi bulan berada di titik perigee, maka efek gaya gravitasi bulan di bumi akan sangat besar. Sebaliknya, ketika posisi bulan berada di titil apogee, maka efek gaya gravitasi bulan di bumiakan sangat kecil. Sedangkan apabila kondisi perigee tersebut bersamaan dengan situasi bulan dan matahari berada dalam keadaan satu garis lurus, maka akan terjadi pembentukan pasang laut yang sangat tinggi, yang disebut perigean spring tide. Inilah pasang laut yang sangat berbahaya bagi warga yang bermukim di sekitar laut. Apalagi saat kejadian tersebut juga diiringi dengan tiupan angina kencang yang cukup lama, maka bisa saja terjadi gelombang pasang, yang semakin memperparah suasana.

Prediksi terjadinya perigee dan apogee yang berulang dalam 28 hari, akan sesuai dengan waktu yang dibutuhkan bulan untuk kembali pada posisi/titik semula (360o). Kemunculan perigee dan apogee dalam bulan-bulan selama setahun akan berbeda beda. Hal ini dikarenakan waktu revolusi bulan tidak sama waktunya dengan satu bulan dalam tahun atau kalender Masehi.

  • Pengaruh inklinasi (tetap) orbit bulan dan sumbu bumi

Faktor lainnya adalah apakah kawasan tersebut berada tepat di bawah lintasan bulan atau tidak. Di mana orbit bulan selalu tetap atau ber-inklinasi terhadap bidang orbit bumi dengan besar sudut 5o8’. Oleh sebab itu, suatu waktu bulan akan berada tepat di bidang orbit bumi ketika sedang berevolusi.

  1. Rusaknya hutan

Sebagaimana kita ketahui bahwa hutan memiliki sifat vital sebagai tempat resapan air terbesar yang bisa diandalkan di muka bumi. Hujan yang mampu menyerap air tanah sehingga menjadi cadangan juga bagi manusia yang dialirkan melalui air tanah sangatlah penting untuk tetap dijaga keberlangsungannya (baca : jenis jenis hujan). Apabila hutan sudah rusak ataupun dirusak oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, tentu tidak aka nada lagi yang mampu untuk melakukan resapan air dalam jumlah besar dan mampu menyimpannya sebagai cadangan kebutuhan air. Dengan kondisi gundulnya hutan, maka peristiwa banjir tidak akan bisa terelakkan terutama di kawasan perkotaan yang sudah sangat jarang pepohonan.

Baca : Akibat hutan gundulDampak penebangan hutanAkibat kerusakan hutanCara menjaga kelestarian hutan Fungsi hutanCara mencegah hutan gundul

  1. Lumpur

Lumpur bisa saja menjadi penyebab terjadinya banjir karena adanya endapan yang menumpuk pada kawasan pertanian. Sehingga memicu sedimen yang terkumpul dalam endapan tersebut untuk terpisah dan larut dalam air yang bisa menjadi penumpukan di dasar sungai. Hal ini bisa kita lihat apabila terjadi banjir akibat sungai yang meluap, di mana air membawa partikel lumpur di dalamnya. Penyebab lainnya bisa saja karena paksaan manusia untuk mengeluarkan lumpur dari dalam perut bumi melalui proses pengeboran yang berlebihan, seperti banjir lumpur lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. Yang mana peristiwa tersebut sejatinya terjadi karena adanya kesalahan manusia atau faktor human error.

  1. Perilaku manusia

Perilaku manusia inilah yang sering kali menjadi faktor dominan penyebab banjir yang terjadi di masyarakat saat ini. Perilaku tersebut dimulai dengan kebiasaan buruk yang membuang sampah sembarangan terutama di sungai sehingga menghambat laju aliran airnya, kemudian terjadi luapan air menuju daratan.

Perilaku lainnya yang memprihatinkan hingga saat ini adalah menebang hutan sembarangan sehingga hutan-hutan menjadi gundul dan tidak ada lagi yang memiliki kemampuan untuk melakukan resapan air dalam jumlah besar serta menyimpannya sebagai cadangan ketersediaan air di muka bumi.

  1. Perubahan iklim dan cuaca yang ekstrim (tak tentu)

Perubahan iklim dan cuaca yang tak menentu juga bisa menjadi faktor yang tidak akan terduga, terutama dalam kondiri saat ini. Curah hujan yang berlebihan bisa saja akan menyebabkan banjir meskipun tempat yang dihujani sudah memiliki kemampuan yang cukup mumpuni untuk melakukan resapan air. Sebaliknya, apabila yang terjadi adalah kemarau berkepanjangan, maka justru ketersediaan air akan kurang bahkan menimbulkan kekeringan. Apalagi di tengah isu global warning yang semakin marak seperti saat ini.

  1. Saluran air (drainase) yang buruk

Saluran air atau drainase merupakan tempat untuk mengalirnya aliran air. Saluran air yang buruk tentunya akan menghambat mengalirnya air sebagaimana mestinya. Sedemikian sehingga saat hujan turun atau limpahan air yang datang dari suatu tempat akan terhambat proses mengalirnya. Oleh karena itu, saluran drainase harus dalam kondisi baik dan rutin dibersihkan hingga tidak terjadi sumbatan.

  1. Penyebab lainnya

Penyebab lain yang dapat memicu terjadinya banjir adalah ketika terjadi luapan air di kawasan kedap air, dalam artian kawasan tersebut tidak memiliki kemampuan untuk menyerap air dalam waktu singkat. Kejadian ini biasanya banyak terjadi ke kawasan perkotaan yang hampir semua dasar tanahnya sudah memakai aspal dan beton. Pemukiman modern ala perkotaan yang alas tanahnya sudah disulap menjadi paving-paving cantik dengan berbagai macam motif sehingga menyisakan kawasan pertanahan yang sangat sedikit sekali.

Selain itu juga bisa disebabkan karena terjadinya badai menuju arah yang sama dan pembangunan bendungan yang sembarangan tanpa memperhitungkan keadaan sekitarnya, yang mungkin padat pemukiman. Sehingga apabila air dalam bendungan meluap akan mengenai pemukiman tersebut.

Cara Mengantisipasi dan Mengatasi Banjir

Peristiwa banjir yang identik dengan sebutan bencana tentunya memerlukan perhatian serius untuk bisa diantisipasi dan diatasi apabila telah terjadi. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi dan mengatasi terjadinya banjir sehingga mampu meminimalisir kejadian ataupun dampak yang ditimbulkan, antara lain:

  1. Penanaman dan pengubahan mindset atau pola pikir, sikap atau tingkah laku serta aspek spiritual manusia untuk lebih menghargai alam

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa ilmu alam merupakan ilmu pasti, meskipun kita enggan untuk benar-benar mengakui dan menyadari fakta tersebut. Alam sebagai ilmu pasti tidak akan mengenal akan istilah basa-basi. Sebagaimana kita pelajari bahwa rumus dalam ilmu alam sendiri sangatlah jelas atau tidak bertele-tele. Berbeda dengan manusia yang penuh dengan retorika atau karang-mengarang yang hanya mencari menangnya sendiri. Sebagaimana contoh bahwa alam itu pasti dan jelas adalah struktur yang tersusun pada orbit planet di tata surya. Semuanya pasti dan jelas, jauh dari retorika.

Matahari contohnya, dia bergerak sesuai hukumnya yang pasti di alam sebagai salah satu penopang kehidupan makhluk hidup. Hukum alam yang telah kita ketahui juga, berupa hukum sebab akibat, timbal balik, dan gravitasi atau tarik-menarik.

Sedemikian sehingga manusia sudah sepatutnya untuk sadar dan lebih menghargai alam dengan cara merawat dan menjaganya dengan baik, bukan malah merusak alam itu sejadi-jadinya. Seperti saat ini, di mana illegal logging (penebangan hutan secara liar) maupun pembakaran hutan semaunya sendiri sedang merajalela.

Jadi, apabila tidak ingin mengalami bencana banjir, janganlah membuang sampah sembarangan, membabat dan membakar hujan semaunya. Namun cobalah untuk mulai merawat alam itu sendiri dengan cara, seperti reboisasi sehingga alam yang kita tinggali ini memiliki kemampuan untuk melakukan resapan air dan menyimpan cadangan ketersediannya sebagai kebutuhan hidup. Ajarkan perilaku tersebut sejak dini, lalu berlakukan untuk semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

  1. Pembuatan lubang biopori

Lubang biopori merupakan lubang yang dibuat di sekitar tempat tinggal kita. Dengan kata lain, lubang ini merupakan lubang resapan air yang berada di lingkungan sekitar. Lubang ini nantinya bisa diproyeksikan menjadi reservoir (sumur) dan resapan alam. Dan juga memungkinkan mikroba tanah atau makhluk kecil yang ada di dalam tanah ikut membantu melakukan resapan air yang menggenang di atasnya secara alami.

  1. Menyediakan rumah siaga banjir

Penyediaan rumah siaga banjir ini dimaksudkan sebagai tempat penampungan atau pengungsian saat banjir terjadi. Pengadaan rumah siaga banjir ini bisa dilakukan oleh kelompok masyarakat secara swadaya maupun bekerjasama dengan perangkat pemerintahan setempat, seperti kelurahan dan bupati. Hal-hal yang bisa dikoordinasi dengan adanya rumah siaga ini, berupa bahan makanan, pakaian, obat-obatan, komunikasi, evakuasi hingga ketersedian air bersih.

  1. Manajemen (pengaturan) hulu dan hilir sungai

Mengapa sungai? Karena sungai merupakan salah satu organ vital yang berfungsi sebagai tempat mengalirnya air menuju muara hingga berakhir di lautan. Manajemen ini memang memerlukan usaha yang ekstra karena hasil yang maksimal hanya akan diperoleh apabila masyarakat dan pemerintah setempat mau bekerjasama, sekaligus mencanangkan antisipasi yang akan dilakukan saat banjir terjadi.


Salah satu yang bisa dilakukan ialah dengan cara menerapkan sistem ramah lingkungan pada sungai yang ada di tempat tersebut, seperti melakukan konservasi air pada sungai.

  1. Memfungsikan sungai, selokan maupun saluran drainase sebagaimana mestinya

Artinya sungai, selokan maupun saluran drainase tidak dijadikan sebagai tempat pembungan sampah yang nantinya akan mengganggu jalannya aliran air yang mengalir atau tersumbat. Apabila terjadi sumbatan, sudah tentu aliran air akan terhambat sehingga alir yang tidak bisa mengalir akan meluber ke lingkungan sekitarnya.

  1. Melarang pembangunan rumah di dekat-dekat sungai

Membangun rumah di dekat-dekat sungai tentunya akan merusak tatanan lingkungan dan juga bisa merusak struktur tanah yang ada di dekat sungai. Hal ini bisa berakibat proses resapan air tidak berjalan maksimal.

  1. Reboisasi dan anti illegal logging

Reboisasi atau penanaman pohon kembali patut dilakukan bahkan digalakkan, mengingat hutan-hutan yang ada sudah mulai habis terbabat ulah tangan manusia yang tidak bertanggungjawab dan bertindak semaunya sendiri. Aksi ini juga harus lebih di-intens-kan atau lebih digalakkan di kawasan perkotaan, menilik di kota-kota besar sudah jarang sekali pepohonan yang tumbuh sehingga proses penyerapan airnya kurang baik dan udara juga terasa lebih panas dan tidak heran apabila pusat kota, seperti ibukota Jakarta selalu mengalami kebanjiran bahkan sudah menjadi musiman setiap tahunnya.

Di samping itu, larangan terhadap tindakan illegal logging(penebangan liar) harus sangat ditegakkan dan ditegaskan oleh pihak pemerintah sebagai armada negara.Sanksi atau hukuman yang diberlakukan harus benar-benar jelas dan berjalan dengan adil sesuai peraturan hukum yang berlaku.

Oleh karena itu, perlu ditekankan sekali lagi bahwa sejatinya bencana banjir yang terjadi mayoritas disebabkan olah tangan manusia. Sedemikian sehingga cara yang paling efektif untuk mencegah maupun mengatasi semua jenis banjir yang ada adalah mulai sadar dan lebih menghargai alam atau lingkungan sekitar, dimulai dari diri sendiri kemudian orang lain yang nantinya harus saling mengingatkan satu sama lainnya.

Gotong-royong antara sesama anggota masyarakat terhadap kepekaan atau kepedulian antar sesama juga harus ditanamkan dan dibuktikan dengan tindakan, seperti saling menghormarti dan tolong-menolong. Apabila sikap ini sudah berhasil tumbuh dan benar-benar dilakukan dalam masyarakat, maka kerjasama antar orang/individu dalam masyarakat akan semakin baik. Dan apabila kerjasama sudah baik, maka masalah seperti banjir pun akan mudah untuk di atasi secara bersama-sama.

Maka dari itu, mari kita sadar akan kondisi ini dan mulailah untuk lebih menghargai alam dengan cara merawat supaya tetap lestari dan tidak merusaknya sehingga bisa berakibat bencana yang tidak diinginkan, seperti banjir. Bukan hanya tidak diinginkan saja, tetapi agar tidak dirugikan pula bahkan sampai merenggut nyawa.

,
Oleh :
Kategori : Bencana Alam