12 Penyebab Terjadinya Siklon Tropis dan Proses Pembentukannya

siklon tropisBeberapa waktu lalu, sebagian daerah di Pulau Jawa mengalami gangguan iklim yang disebabkan oleh adanya pergerakan angin tropis yang menyebabkan adanya siklon. Angin siklon ini oleh para ahli meteorologi dinamakan siklon tropis dan di beberapa daerah siklon tropis ini dinamai dengan sebutan nama-nama bunga, seperti siklon dahlia dan lain sebagainya.

Menurut penjelasan dari BMKG, siklon tropis merupakan salah satu gangguan meteorologi yang disebabkan karena adanya titik bertekanan rendah di lautan yang menimbulkan adanya badai dengan kekuatan yang besar dengan kecepatan rata-rata sebesar 150 hingga 200 km per jam. Secara teknis, siklon tropis diartikan sebagai sistem tekanan rendah non-frontal yang berskala sinoptik yang tumbuh di atas perairan hangat dengan wilayah perawanan konvektif dan kecepatan angin maksimum ± 34 knot pada lebih dari setengah wilayah yang melingkari pusatnya, serta bertahan setidaknya enam jam.

Lebih lanjut, siklon tropis memiliki empat karakteristik dalam daur hidupnya. Hal ini dimulai dari proses pembentukan hingga memudarnya siklon tropis. Berikut ini disajikan empat proses pembentukan siklon tropis, yaitu:

  1. Tahap Formasi

Pada tahapan pertama ini, siklon tropis ditandai dengan adanya turbulensi di lapisan atmoster. Berdasarkan pengamatan citra satelit cuaca, turbulensi atau gangguan udara ini ditunjukkan dengan adanya pembentukan awan-awan kumulonimbus di area konventif. Di area ini selanjutnya mulai muncul ujung sirkulasi perawanan yang berbentuk spiral.

  1. Tahap Pra-Sempurna

Di tahapan kedua ini, pembentukan awan melingkar yang berbentuk spiral sudah mulai kuat atau wilayah ini sudah berbentuk relatif bulat. Peningkatannya ditandai dengan tekanan udara permukaan yang turun mencapai kurang dari 1000 mb secara simulan dan kecepatan angin maksimum yang meningkat yaitu sebesar ≥ 34 knot atau 63 km/jam. Kecepatan angin dengan kecepatan maksimum sudah berpusat di cincin-cincin yang mengelilingi pusat sirkulasi siklon. Dan, pada tahapan ini mata siklon sudah mulai nampak terlihat.

  1. Tahap Sempurna

Pada tahapan ketiga ini, siklon tropis sudah terbentuk secara sempurna dan cenderung stabil. Di bagian pusat siklon, tekanan udaranya sangat minimal dan di sekililing pusat siklon kecepatan angin sangat maksimal dan berputar secara konstan. Secara perlahan, pusat sirkulasi siklonik dan area yang memiliki kecepatan angina maksimal sudah meluas dan menunjukkan kondisi perawanan yang teratur dan lebih simetris. Selain itu, mata siklon sudah nampak dengan mata telanjang pada saat siklon tropis sudah semakin kuat. Siklon tropis ini ditandai dengan area dengan suhu paling hangat di tengah-tengah sistem perawanan yang memiliki angin permukaan yang tenang dan dikelilingi oleh dinding perawanan konvektif tebal di sekelilingnya. Tahapan sempurna ini biasanya hanya mampu bertahan selama kurang lebih 24 jam sebelum masuk ke tahap pelemahan.

  1. Tahap Pelemahan

Pada bagian terakhir siklus hidup siklon tropis ini, pusat siklon yang memiliki suhu hangat sudah mulai menghilang dan tekanan udara mulai meningkat dan area dengan kecepatan angin maksimum sudah meluas dan melebar menjauh dari pusat siklon. Tahap pelemahan dapat terjadi dengan cepat jika siklon tropis melalui wilayah yang tidak mendukung bagi pertumbuhannya, seperti pada saat siklon tropis mulai memasuki wilayah perairan dengan garis lintang yang tinggi atau berada di daerah kutub dengan suhu muka laut yang dingin atau masuk ke daratan. Hal ini dapat ditunjukkan dari citra satelit cuaca bahwa area konvektif pada siklon tropis sudah berkurang dan turbulensi perawanan mulai menghilang secara perlahan.

Dari empat tahapan tersebut diatas maka, proses penyebab terjadinya siklon tropis dapat di jelaskan sebagai berikut ini:

  1. Terjadi di daerah dengan iklim tropis dimana suhu udara sangat hangat dan basah;
  2. Terjadi di daerah perairan dengan suhu muka laut (sst) yang cukup panas yaitu dengan suhu > 26˚C;
  3. Parameter Gaya Coriolis harus lebih besar dari nilai minimum yang terdapat pada garis lintang 5˚ di belahan bumi bagia.n utara dan selatan;
  4. Adanya pergeseran angin vertikal yang lemah didalam arus troposferik yang tebal;
  5. Adanya asupan energi dari konvergensi arus udara secara terus menerus untuk pembentukan siklon tropis;
  6. Memerlukan adanya kelembaban udara pada lapisan troposfer menegah yang cukup besar;
  7. Terjadi di daerah perairan dengan kedalaman lebih dari 60 meter;

  8. Kondisi lapisan atmosfer yang tidak stabil yang memungkinkan terbentuknya awan Cumulonimbus;
  9. Lapisan atmosfer yang relatif lembab dengan ketinggian sekitar 5 km di atas permukaan laut;
  10. Lokasi pembentukan siklon tropis haruslah berada pada jarak setidaknya sekitar 500 km dari garis khatulistiwa;
  11. Terjadinya turbulensi atau gangguan di lapisan atmosfer yang dekat dengan permukaan bumi yaitu berupa angin yang berpusar dan disertai dengan sirkulasi angin;
  12. Perubahan kondisi angin terhadap ketinggian yang tidak terlalu besar karena perubahan kondisi angin yang besar akan menyebabkan pembentukan siklon tropis yang tidak sempurna.

Selain sebab-sebab tersebut di atas, siklon tropis yang terjadi belakangan ini disinyalir memiliki kaitan yang kuat dengan pemanasan global atau global warming yang menyebabkan kenaikan suhu permukaan bumi dewasa ini dan mencairnya lapisan es di daerah kutub. Selain itu, berkurangnya lapisan ozon juga menjadi pemicu semakin seringnya muncul siklon-siklon yang lain di beberapa belahan bumi. Hal  ini seperti yang diungkapkan oleh Anthes et al (2006) berdasarkan pengamatan mereka akhir-akhir ini yang menyatakan adanya peningkatan intensitas siklon tropis akibat adanya pemanasan global.

Lebih lanjut, Knutson dan Tuleya (2004) mengungkapkan bahwa adanya peningkatan intensitas siklon terjadi karena dua elemen iklim yaitu kecepatan angin dan curah hujan yang sangat erat berkaitan dengan jumlah, lintasan, dan intensitas siklon tropis. Perubahan suhu muka laut yang berada di empat daerah lautan yang menjadi pusat terjadinya siklon tropis, yaitu Samudera Pasifik Barat Laut, Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik Timur Laut, dan Samudera Hindia, memiliki suhu yang sangat bervariasi, sekitar 0,8 °C hingga sampai 2,4°C. Adanya variasi perubahan suhu muka laut di ke-empat daerah samudera ini menghasilkan peningkatan rata-rata sebesar 6% terhadap kecepatan angin maksimum dalam sistem siklon tropis.

Demikianlah penjelasan mengenai penyebab terjadinya siklon tropis semoga bermanfaat dan dapat menjadi acuan dalam mencegah atau mewaspadai terjadinya siklon tropis.

, , , ,
Oleh :
Kategori : Bencana Alam