3 Jenis Jenis Tsunami Berdasarkan Waktu Terjadinya

Bencana tsunami merupakan bencana alam yang disebabkan oleh pergeseran lempeng bumi di dasar laut yang menimbulkan getaran dahsyat dan membuat air dari dasar laut meluap hingga ke daratan. Menurut arti katanya, tsunami berasal dari bahasa Jepang, dimana tsu berarti pelabuhan dan nami berarti gelombang. Sehingga secara harfiah, tsunami berarti ombak besar di pelabuhan.

Penyebab terjadinya tsunami bisa berupa gunung meletus, gempa bumi, tanah longsor, maupun jatuhnya meteor ke permukaan bumi. Namun, 90% kasus bencana tsunami terjadi akibat adanya gempa bumi dari bawah laut. Gerakan vertikal yang terjadi di kerak bumi mengakibatkan dasar laut naik ataupun turun secara tiba-tiba. Hal tersebut mengganggu keseimbangan air yang berada di atasnya. Terjadilah aliran energi laut yang ketika tiba di pantai menjadi sebuah gelombang yang sangat besar yang berakibatkan tsunami. Di laut dalam, gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan 500-1000 km per jam, setara dengan kecepatan pesawat terbang.

Jenis jenis tsunami berdasarkan karakteristik

Untuk dapat menyadari kemungkinan terjadi bencana tsunami, kita perlu mengetahui jenis tsunami yang ada dengan memperhatikan tanda-tandanya, seperti gempa dengan kekuatan yang cukup besar, berkisar 7-9 Skala Richter. Lihat pula kondisi air laut, apabila tiba-tiba saja surut setelah gempa terjadi, maka kita wajib waspada karena bisa aja aliran energi laut tengah terjadi dengan menarik air masuk sebelum memuntahkannya dengan kekuatan yang lebih besar. Selain itu, kita perlu memperhatikan tanda-tanda alam yang tidak biasa, seperti gerakan angin, adanya suara gemuruh dari arah laut, bahkan perilaku hewan liar.

Sering kali tsunami disalahartikan dengan fenomena gelombang air pasang. Hal itu disebabkan karena air yang ketika mencapai daratan nampak seperti gelombang air pasang yang tinggi, daripada ombak biasa.

Sesuai dengan waktu terjadinya, berikut jenis-jenis tsunami.

1. Tsunami jarak dekat

Disebut jarak dekat atau lokal karena jeda sejak terjadi gempa hingga menimbulkan tsunami terjadi setelah 0-30 menit. Jarak dari pusat gempa menuju lokasi tsunami sejauh 200 kilometer. Daerah di sekitar gempa mungkin merasakan getaran yang amat hebat hingga menimbulkan kerusakan pada bangunan. Tanda-tanda sebelum terjadi tsunami adalah terasanya getaran yang hebat disertai dengan pasang-surut air laut. Adapun alat pendeteksi gempa bumi yaitu:

  • Accelerograph, biasa disebut juga strong motion seismograph. Alat ini dipasang hanya untuk mendeteksi getaran kuat saja, dilengkapi dengan alarm dan sistem komunikasi untuk menyebar berita, kontrol operasional, dan perawatan jarak jauh.
  • Tide gauge, yakni alat untuk mengukur perubahan muka laut, yang disebabkan oleh pasang dan surut harian muka laut yang disebabkan oleh gaya tarik bulan dan matahari (normal), angin, atau tsunami. Informasi yang dibutuhkan untuk peringatan dini (early warning) adalah pasang surut saat sebelum terjadinya tsunami di lokasi bersangkutan, kemudian pasang naik mengakibatkan tsunami menjadi informasi untuk lokasi yang lebih jauh.

Kedua alat tersebut dipasang di tempat yang sama pada sebuah shekter di area pantai yang dilengkapi dengan alarm penanda bahaya. Peringatan pertama berasal dari accelerograph, kemudian disusul dengan peringatan dari tide gauge apabila terjadi perubahan muka air laut. Peringatan tersebut disampaikan kepada warga sekitar berupa alarm, petugas atau aparat setempat untuk memulai proses evakuasi, dan BMG pusat untuk monitoring dan informasi darurat agar disebarkan ke daerah berpotensi lainnya.

2. Tsunami jarak menengah

Dikatakan jarak menengah, karena jeda waktu dari setelah terjadi gempa hingga tsunami adalah 30 menit hingga 2 jam. Jarak dari pusat gempa hingga ke lokasi berkisar antara 200-1,000 kilometer,  yang mungkin saja masih merasakan gempa dengan intensitas II hingga V MMI (Modified Mercalli Intensity). Tanda sebelum terjadi tsunami adalah getaran kuat dan sering diikuti oleh laut pasang surut. Peralatan tanda bahaya juga dilengkapi alarm untuk memberi peringatan tanda bahaya, namun mungkin accelerograph tidak cukup berpengaruh karena getarannya lemah.

3. Tsunami jarak jauh

Disebut dengan jarak jauh, karena jeda waktu dari setelah terjadi gempa hingga tsunami bisa lebih dari dua jam. Jarak lokasi dari titik gempa melebihi 1,000 kilometer, karena itulah warga setempat tidak akan merasakan gempa. Pasang surut air laut masih mungkin terjadi sebelum gelombang tsunami datang. Pada daerah ini tidak diperlukan accelerograph.

Sejarah Tsunami

  • 1755 : Terjadi di Lisbon, Portugal. Menewaskan 60 ribu korban jiwa.
  • 1883 : Akibat letusan Gunung Krakatau di Indonesia, mengguncang Samudera Hindia dan Pasifik, hingga ke pantai barat Amerika dan Amerika Selatan. Menewaskan 36 ribu jiwa.
  • 1896 : Terjadi di Meiji Sanriku, Jepang. Tinggi mencapai 30 meter, menewaskan 27 ribu jiwa.
  • 1923 : Akibat gempa besar di Kanto, Jepang, meratakan Tokyo, Yokohama, dan sekitarnya.
  • 2004 : Gempa 9,1 Skala Richter di Samudera Hindia menimbulkan tsunami besar di Aceh, Indonesia. Terdapat delapan negara yang dilewati gelombang tersebut, yaitu Thailand, pantai timur India, Srilanka, bahkan pantai timur Afrika di Somalia, Kenya, dan Tanzania.
  • 2005 : Terjadi di lepas pantai Nias, Indonesia. Menewaskan 1,300 jiwa.
  • 2006 : Gempa 7,7 Skala Richter di Samudera Hindia, 200 kilometer dari Pangandaran, Indonesia, menyapu dengan gelombang tsunami setinggi 6 meter.
  • 2011 : Akibat gempa di pesisir timur Honshu, Jepang, membuat gelombang setinggi 10 meter.

Demikian artikel mengenai jenis jenis tsunami yang dapat kami sampaikan. Semoga informasi yang terdapat pada artikel ini dapa bermanfaat bagi anda.

fbWhatsappTwitterLinkedIn