3 Ciri-Ciri Daerah Rawan Gempa Bumi

Dunia ini terdiri atas lempengan-lempengan tanah yang membentuk daratan. Lempengan-lempengan itu terus aktif bergerak, dan bisa saja menimbulkan gempa bumi. Ya, ada beberapa macam-macam gempa bumi yang dapat terjadi di bumi kita ini. Salah satu penyebab dari gempa bumi itu sendiri adalah getaran yang terjadi dari dalam bumi yang membutuhkan pelepasan energi. Pada saat pelepasan energi ini terjadi, lempengan-lempengan yang terdapat di kerak bumi khususnya permukaan bumi atau di bawah lautan pun bergerak dan bergeser, akibatnya terjadilah guncangan.

Peta lempengan-lempengan tektonik di dunia. Negara-negara yang terletak di perbatasan lempeng seringkali mengalami bencana gempa bumi akibat aktivitas pergerakan lempeng-lempeng tektonik tersebut.

Dataran bumi terdiri dari lempengan-lempengan batu yang selalu aktif bergerak setiap saat. Kadang lempengan-lempengan ini saling bertumbukan, kadang bergeser saling menjauh, atau hanya saling bergesekan. Keretakan pada lapisan bebatuan ini mengakibatkan gempa tektonik. Daerah yang terletak di perbatasan lempeng bumi ini juga merupakan ciri daerah rawan gempa yang patut diantisipasi.

Menurut teori lempeng tektonik, bumi ini terdiri dari 15 lempeng yang menyusun lapisan tanah terluar dari planet. Lempengan-lempengan itu terdiri dari lempengan laut dan lempengan benua. Secara keseluruhan ada 6 lempengan besar dan 9 lempengan kecil.

Lempeng ini selalu bergerak. Kini dapat disusun fakta bahwa sesungguhnya semua aktivitas vulkanis, seismitik dan tektonik terjadi pada perbatasan dari lempengan-lempengan ini. Itu sebabnya kebanyakan gempa bumi dan gunung berapi dapat ditemukan pada tepian lempeng dunia ini.

Pada tanggal 12 Mei 2008 lalu di Sichuan, China telah terjadi gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitude 7,9 skala richter. Tragedi ini mengakibatkan banyak sekali kerusakan dan korban jiwa. Timbulnya gempa bumi tersebut adalah akibat tumbukan antara dua lempeng tektonik yaitu lempeng India dan lempeng Eurasia (lempeng yang menghubungkan antara Eropa dan Asia).

3. Terdapat Aktivitas Manusia yang Melibatkan Dinamit

Kadang ada beberapa aktivitas manusia yang berdampak pada lingkungan mengakibatkan beberapa bagian dari struktur bumi mengalami gempa bumi buatan. Misalnya pengetesan bom yang menghasilkan gelombang kuat yang menghantam bebatuan, mengakibatkan gempa bumi buatan. Gempa bumi semacam itu memiliki kekuatan yang sama dengan kekuatan gempa bumi vulkanis skala ringan.

Selain itu, aktivitas penggalian, atau ketika membangun bendungan yang menggunakan dinamit juga seringkali menjadi alasan bagi timbulnya gempa buatan yang berkekuatan ringan.

Namun tidak selalu guncangan gempa bumi buatan tersebut berskala ringan. Misalnya pada tahun 1929, ketika sedang ada konstruksi di bendungan Marathon mengakibatkan gempa bumi berkekuatan hebat di Yunani pada tahun 1931.

Proses pembuatan danau buatan juga kadang mengakibatkan gempa bumi buatan. Volume air yang meningkat dapat memberikan tekanan serius kepada lapisan tanah di bawahnya. Tekanan mendadak ini dapat mengakibatkan pergerakan lapisan tanah yang secara tiba-tiba dan berujung pada gempa bumi. Gempa bumi ini biasanya muncul apabila kedalaman bendungan lebih dari 100 meter. Tekanan air menjadi penyebab dari aktivitas seismitik ini.

Pada tahun 1967 terjadi gempa bumi Koynanagar, Maharastra, India yang berkekuatan 6,3 skala richter. Mulai dari episenter, fore shock, dan after shock semua terjadi di sekitar danau Koyna. Gempa ini merenggut 180 korban jiwa, 1.500 orang luka-luka. Dampak dari gempa bumi ini dirasakan dalam radius 230 km jauhnya di Bombay.

Dengan mengetahui ciri-ciri daerah rawan gempa tersebut, manusia harus mampu mengantisipasi diri dan sebisa mungkin tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu terjadinya gempa. Sebagai makhluk berakal, kita harus sama-sama meningkatkan fungsi lingkungan hidup bagi manusia dan ruang publik untuk kehidupan, karena bumi ini adalah tempat tinggal terindah dari Allah SWT yang diberikan kembali untuk kesejahteraan hidup manusia.

fbWhatsappTwitterLinkedIn