5 Daerah Rawan Gempa di Indonesia (Nomor Tiga Sampai 200 Kali Gempa)

Risiko menjadi bagian dari daerah yang dilalui oleh cincin api adalah banyaknya gunung berapi di wilayah Indonesia, kemudian tentu saja; gempa bumi. Ya, macam-macam gempa bumi beraneka ragam. Gempa bumi yang terjadi di Indonesia tidak hanya diakibatkan oleh aktivitas gunung berapi, melainkan terutama oleh karena pergerakan lempengan-lempengan yang menyusun daratan di Indonesia.

Total ada empat lempeng yang melandasi kepulauan Indonesia, diantaranya adalah Lempeng Benua Asia, Lempeng Benua Australia, Lempeng Samudra Hindia dan Lempeng Samudra Pasifik. Lalu, daerah mana saja yang merupakan daerah rawan gempa di Indonesia?

1. Aceh

Pada Bulan Desember 2004 lalu, Aceh pernah mengalami gempa yang sangat besar berkekuatan sampai 9,3 skala richter. Gempa dan tsunami Aceh ini mengakibatkan tsunami yang sangat dahsyat sehingga seluruh kota Aceh luluh lantak. Karena kuatnya guncangan gempa, wilayah di sekitarnya seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Myanmar, bahkan India, Bangladesh dan Maladewa juga ikut merasakan gempa tersebut.

Kemudian tanggal 2 Juli 2013, Aceh kembali diserang gempa berkekuatan 6,1 skala richter. Gempa ini menewaskan 39 orang dan 400 orang lainnya luka-luka. Kerusakan bangunan yang ditimbulkan sejumlah kurang lebih 3.000 bangunan yang hancur.

Sebelumnya pada tanggal 11 April 2012, Aceh juga dihantam gempa yang cukup kuat dengan magnitude 8,5 skala ritcher dan disusul kemudian gempa yang sama kuatnya; 8,1 skala ritcher. Setelah itu terjadi juga beberapa gempa susulan. Gempa ini menjadi penyebab tsunami setinggi 1 meter yang tampak di Nias, sementara 80 cm terlihat di Meulaboh, kemudian 6 cm di Sabang. Gempa ini cukup spesial karena terjadi di dekat NER (Ninety East Ridge), dimana gempa jarang sekali terjadi di daerah tersebut. NER adalah punggung laut yang memanjang sejauh 5.000 km dari Teluk Benggala ke selatan hingga tenggara India Ridge.

2. Bengkulu

Daerah ini seringkali terjadi gempa kecil-kecilan karena letaknya dekat dengan daerah pantai. Di tempat ini gempa sudah sangat sering terjadi. Walau biasanya gempa di Bengkulu hanya berkisar antara 4 hingga 5 skala richter, namun pernah juga terjadi gempa besar yang berdampak mematikan.

Pada tanggal 4 Juni 2000, terjadi gempa berskala 7,3 sr di Bengkulu. Sebuah gempa yang berepicentrum di laut, tepatnya Palung Jawa, dan berkedalaman 33 km. Jumlah korban tewas melebihi angka 90 jiwa, korban luka-luka setidaknya berjumlah 1000 jiwa, dan ada ribuan bangunan yang hancur, termasuk infrastruktur.

3. Lombok, NTB

Menurut BMKG, berdasarkan data-data yang pernah tercatat sebelumnya wilayah Lombok, NTB sudah sering dihantam oleh gempa yang berkekuatan besar. Memperhatikan dari titik-titik aktivitas gempa atau seismistas Pulau Lombok, terlihatlah bahwa seluruh wilayah pulau lombok banyak terdapat titik episenter.

Tercatat pada tanggal 25 Juli 1856, gempa disertai bencana tsunami di Labuan Tereng; 10 April 1978, gempa magnitude 6,7 skala richter; 21 Mei 1979, gempa magnitude 5,7 skala richter; 30 Mei 1979, gempa magnitude 6,1 skala richter; 20 Oktober 1979, gempa magnitude 6,0 skala richter; 1 Januari 2000, gempa magnitude 6,1 skala richter; 22 Juni 2013, gempa magnitudo 5,4 skala richter; dan tentunya, gempa Lombok yang terjadi pada tanggal 5 Agustus 2018, gempa magnitudo 7,0 skala richter.

4. D.I. Yogyakarta

Gempa yang paling diingat pernah terjadi di Yogyakarta mungkin adalah gempa pada tanggal 27 Mei 2006 lalu. Gempa itu berdampak sangat merusak bagi masyarakat Yogyakarta pada waktu itu, walau kekuatannya hanya 5,9 skala richter (namun menurut USGS, kekuatannya mencapai 6,3 skala richter), terbilang masih lebih ringan dibandingkan yang terjadi pada tahun 1937 dan 1943. Waktu kejadiannya adalah pagi hari, beberapa menit sebelum pukul 6 pagi. Korban jiwa yang ditimbulkan tidak main-main, berjumlah mencapai 6.652 jiwa (total keseluruhan korban jiwa, karena gempa tersebut juga terjadi di wilayah lain di luar Yogyakarta). Sedangkan kerusakan bangunan mencapai puluhan ribu. Di Kabupaten Bantul, kerusakan bangunan mencapai total 71.763 bangunan.

Selain gempa yang terjadi pada tahun 2006 tersebut, Yogyakarta juga sering sekali diguncang gempa, bahkan sejak zaman VOC. Gempa yang terjadi pada tahun 1867 itu sampai merusak beberapa situs penting seperti keraton, taman sari, dan tugu Yogya.

Kemudian terjadi gempa lain pada tanggal 27 September 1937 di Yogyakarta dengan kekuatan 7 skala richter. Gempa berepisentrum di titik 8,7 LS – 110,8 BT ini merobohkan lebih dari 2.000 bangunan di Klaten, 326 rumah di Prambanan, dan merenggut 1 korban jiwa.

 

Pada tanggal 23 Juli 1943, timbul lagi gempa di Yogyakarta berkekuatan magnitude 8 skala richter. Gempa ini berpusat di epicentrum 8,6 LS – 109,9 BT. Gempa ini disebut-sebut lebih parah daripada gempa yang terjadi 6 tahun sebelumnya. Korban jiwa sebanyak 213 orang, dan 2096 orang mengalami luka berat. Sementara itu menurut catatan BMKG, sebanyak 28.000 rumah mengalami kerusakan berat.

Gempa yang terjadi pada tahun 1981 ini hanya berkekuatan 5,6 skala richter. Pada gempa kali ini tidak banyak dampak yang semematikan gempa-gempa besar sebelumnya. Kerusakan bangunan hanya berupa retakan-retakan saja.

5. Mentawai, Sumatera Barat

Pada tanggal 2 Maret 2016 lalu pukul 19:49 WIB, telah terjadi gempa berkekuatan 7,8 skala Richter. Lokasi sumber gempa berada di sekitar 682 km Barat Daya dari kepulauan Mentawai, Sumantera Barat. Walau begitu, peringatan tsunami segera dicabut oleh BMKG.

Telah tercatat setidaknya sudah terjadi gempa besar sebanyak 3 kali dalam rentang tahun 2007-2010 di Mentawai.

Pada tanggal 6 Maret 2007, terjadi serangkaian gempa bumi dengan magnitude antara 5,8-6,4 skala Richter yang melanda sejumlah kabupaten di provinsi Sumatera Barat. Guncangan dari gempa bumi ini terasa hingga ke negeri tetangga; Malaysia dan Singapura. Sampai keesokan harinya, jumlah korban akibat gempa ini sebanyak 52 jiwa.

2 tahun kemudian, tepatnya tanggal 30 September 2009, terjadi lagi gempa dengan kekuatan yang lebih besar yaitu 7,6 skala richter sekitar 50 km arah barat laut dari kota Padang, di luar pantai Sumatera Barat. Berdasarkan data Satkorlak PB, tercatat ada 1.117 korban jiwa yang ditimbulkan oleh gempa ini, hasil total dari 3 kota dan 4 kabupaten di Sumatera Barat. Sementara itu 1.214 orang luka berat, 1.688 orang mengalami luka ringan, dan 1 orang dinyatakan hilang. Dampak bagi bangunan juga tidak kalah merusak, terhitung ada 135.448 rumah rusak berat, sedangkan 65.380 rumah rusak sedang, dan 78.604 rumah mengalami kerusakan ringan.

Pada tanggal 25 Oktober 2010, terjadi lagi gempa berkekuatan 7,7 skala richter di lepas pantai Sumatera, tepatnya kepulauan Mentawai.

Menurut USGS (United States Geological Survey, gempa tersebut terjadi pukul 21:24 waktu setempat dan lokasi gempa terjadi sekitar 240 km dari sebelah Barat Bengkulu. Titik ini dekat dengan kepulauan Mentawai. Hasil akhir catatan USGS melaporkan kedalaman gempa sejauh 20,6 km. Tiga jam setelah BMKG mencabut peringatan tsunami, terjadilah serangan gelombang besar setinggi 3 hingga 10 meter yang menghancurkan 77 desa. Dilaporkan korban jiwa berjumlah sebanyak 286 orang dan 252 orang lainnya dilaporkan hilang.

Bagi Anda yang tinggal di daerah rawan gempa di Indonesia tersebut, maka sebaiknya Anda harus mempelajari cara melakukan mitigasi gempa bumi. Namun, Anda yang berada di daerah lain pun tidak ada salahnya untuk mempelajari hal tersebut.

, , , ,