Sponsors Link

Jenis jenis Batuan dan Penjelasannya

Sponsors Link

Tahukah anda bahwa salah satu bahan baku utama yang ada di dalam bumi adalah batu. Batu yang terurai kemudian menjadi tanah dan tanah kemudian menjadi media utama dalam tempat tumbuhnya tanaman dan tempat tinggal dari berbagai jenis makhluk hidup di dunia ini. dalam isi bumi setidaknya terdapat tiga jenis jenis batuan yang berbeda dimana ketiga jenis jenis batuan tersebut terbentuk dari adanya proses yang sangat panjang. tiga jenis jenis batuan yang ada di lapisan atmosfer bumi diantaranya adalah :

Sponsors Link

Batuan Beku

Batuan beku atau yang disebut sebagai batuan igneus merupakan jenis batuan dimana proses pembentukannya terjadi dari magma yang telah mengalami pembekuan atau pendinginan. Batuan ini biasanya ada di dalam mantel atau kerak bumi. Saat ini setidaknya sudah terdapat 700 jenis batuan beku yang dapat diindentifikasi dan sebagian besar terdapat di bawah kerak bumi.

a. Morfologi Batuan Beku

Morfologi atau cara terbentuknya batuan beku sertidaknya dibagi menjadi tiga macam yaitu intrusive, ekstrusif dan hipabissal. Selengkapnya mengenai ketiga batuan tersebut simak berikut ini:

  • Intrusive

Batuan beku jenis intrusive merupakan batuan beku dimana proses pembentukannya terjadi di dalam kerak bumi atau di bawah permukaan bumi. Batuan ini merupakan bentuk dari pendinginan magma yang ada di dalam kerak bumi sehingga tekstur batuan beku biasanya bersifat kasar. Pada batuan beku bahkan bisa dilihat butiran mineral yang sangat jelas dan dapat dilihat oleh mata telangjang. Pada batuan beku terdapat formasi yang cukup unik yaitu batolit, stok, lakolit, sill, dan dike. Nah saat batuan sudah semakin mendingin dan membeku maka akan memunculkan batuan yang memiliki tekstur kasar seperti batu granit, diorite ataua grabo.

Biasanya di dalam lubang inti pada sebuah pegunungan akan diisi dengan batuan granit namun ketika lubang tersebut tertimbun oleh material lainnya akan membentuk batuan batolit. Batuan beku yang memiliki tekstur butir kasar yang terletak pada kedalaman cukup di dalam kerak disebut sebagai abyssal sedangkan batuan beku intrusive yang proses terbentuknya sudah hampir berada di permukaan disebut sebagai hypabyssal.

  • Ekstrusif

Berbeda dengan batuan beku intrusive, batuan beku ekstrusif ini terjadi di atas permukaan kerak bumi karena adanya pencairan magma di dalam mantel atau kerak bumi. Proses pembekuan dari batuan beku ini lebih cepat dibandingkan dengan proses pencairan batuan beku intrusive karena proses pembekuannya terjadi di atas permukaan bumi. Magma yang keluar dari dalam mantel atau kerak bumi ini melalui gunung berapi yang terdapat lubang dipuncaknya sehingg magma bisa keluar dan membentuk batuan yang lebih cepat membeku. Oleh karena itu tekstur dari batuan ini bersifat halus berpasir. Jenis batuan beku esktrusif yang paling sering ditemukan adalah batu basalt. Beberapa batuan basalt bahkan membentuk sebuah pola yang unik seperti di Antrim, Irlandia utara.

Jenis batuan ekstrusif dan intrusive agak sulit dibedakan karena biasanya keduanya memiliki tekstur kasar dengan butiran-butiran halus di permukaannya. Untuk membedakan keduanya biasanya hanya bisa dilakukan melalui pemeriksaan di bawah mikroskop karena mineral yang terdapat di dalam kedua jenis batuan ini berbeda sehingga jika ada penyebutan apakah itu merupakan batuan intrusive atau batuan ekstrusif di lapangan secara langsung hanyalah sebuah dugaan saja dan tidak bisa dipegang kebenaranya.

  • Hipabissal

Untuk jenis batuan beku hipabissal merupakan jenis batuan yang terbentuk diantara batuan plutonik dan vulkanik. Batuan ini terbentuk karena adanya proses naik turunnya magma di dalam mantel dan kerak bumi. Batuan hipabissal seringkali membentuk sebuah batuan pakolit, dike, sill, lakolit, dan lopolit.

Struktur Batuan Beku

Struktur batuan merupakan penampakan dari batuan yang bisa dilihat dari kedudukan lapisannya. Pada batuan beku seringkali hanya dapat dilihat langsung dari lapangannya langsung. Diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Pillow lava atau lava bantal dimana terjadi karena adanya pembekuan magma pada gunung di bawah laut yang membentuk menyerupai bantal.
  • Joint struktur merupakan aliran lava yang berbentuk kekar-kekar dan tegak lurus sesuai dengan arah alirannya sehingga menghasilkan penampakan yang sangat memukau.
  • Massif, merupakan jejak aliran lava yang keluar dari perut bumi namun tidak menunjukkan adanya tanda-tanda lubang atau aliran gas di dalamnya.
  • Vesikuler, merupakan aliran lava yang mengalir dan dibersamai dengan adanya aliran gas sehingga arah dan teksturnya tidak teratur.
  • Xenolitis, merupakan aliran lava yang dibersamai dengan masuknya batuan lain di dalamnya sehingga menunjukkan sebuah fragmen yang membentuk pecahan-pecahan.

Batuan Sedimen

Batuan sedimen merupakan jenis batuan yang terbentuk di atas permukaan bumi dan dibekukan pada suhu dan tekanan udara yang rendah. Batuan sedimen sebenarnya merupakan bentukan dari batuan yang pernah ada sebelumnya yang sudah terkena berbagai jenis pelapukan dan erosi tanah. Nah, material hasil dari pelapukan dan erosi ini kemudian mengendap di dalam sebuah cekungan dan berkumpul menjadi satu sehingga lambat laun karena adanya tekanan udara dan suhu yang rendah menjadikan kumpulan tersebut sebuah batu baru. Material tersebut kemudian mengeras atau membentuk dan mengelami litifikasi sehingga menjadikan sebuah batuan sedimen.

Di dalam permukaan bumi sendiri jumlah batuan sedimen ini diperkirakan mencapai 75% sedangkan di dalam kerak bumi diperkirakan ada 8%. Dengan mempelajari batuan sedimen ini sebenarnya juga sangat bermanfaat bagi berbagai jenis cabang ilmu pengetahuan seperti geokimia, paleografi, klimatologi serta dari cabang ilmu sejarah kehidupan dan pembentukan muka bumi. Hal ini disebabkan karena setiap lapisan batuan sedimen dapat memperkirakan berapa lama waktu tersebut dan berapa lama usia bumi sebenarnya.

Klasifikasi Batuan Sedimen

Berdasarkan proses pembentukannya, batuan sedimen dibedakan menjadi empat jenis yaitu batuan sedimen klasik, batuan sedimen biokimia, batuan sedimen kimia dan batuan sedimen vulkanik. Selengkapnya mengenai ke empat jenis batuan sedimen ini simak berikut ini:

1. Batuan Sedimen Klasik

Batuan sedimen klasik merupakan jenis batuan yang terdiri dari silikat dan beberapa fragmen batuan yang diangkut menggunakan sebuah fluida nah kemudian material yang diangkut oleh fluida ini akan terhenti dimana fluida ini juga terhenti.

Bentuk dan ukuran dari batuan sedimen klasik kemudian dibedakan lagi sesuai dengan skala ukuran partikel yang mendominasi dan menggunakan ukuran skala butir Udden-Wentworth. Kemudian para ahli membagi ukurannya menjadi tiga jenis yaitu kerikil (batuan yang memiliki diameter lebih dari 2 mm), pasir (batuan yang memiliki diameter antara 1/16 hingga 2 mm) dan lumpur (lumpur terbagi menjadi dua yaitu lempung yang memiliki diameter kurang dari 1/256 mm dan lanau yang memiliki diameter antara 1/16 hingga 1/256 mm).

2. Batuan Sedimen Biokimia

Pada batuan sedimen biokimia menggunakan jasa dari berbagai organisme biasanya merupakan organism mikro yang ikut mengangkut material sehingga berkumpul pada tempat tertentu dan membentuk sebuah batuan. Pada batuan sedimen biokimia ini diantaranya adalah:

  • Batu gamping yang terbuat dari berbagai kerangka biota laut yang berkapur seperti diantaranya karang, foraminifera dan moluska.
  • Batubara yang terbuat dari tumbuhan dimana sudah dihilangkan karbonnya dari atmosfer dan proses ini dibantu oleh beberapa unsure lainnya. ini membuat batu bara memiliki bentuk yang unik dan proses dari tumbuhan menjadi batu bara ini membutuhkan waktu yang sangat lama.
  • Endapan rijang, yang terbentuk dari akumulasi kerangka yang mengandung zat silika dimana zat ini didapatkan dari berbagai biota laut yang memiliki ukuran mikroskopis contohnya adalah ladiolaria dan diatom.

3. Batuan Sedimen Kimia

Batuan sedimen kimia merupakan batuan yang terbentuk dari sebuha kejadian ketika kumpulan material terperangkap di dalam sebuah tempat dan kandungan mineral di dalam larutannya menjadi jenuh dan membeku dengan proses anorganik atau secara kimiawi. Contoh dari batuan sedimen kimia yang paling banyak ditemukan antara lain adalah batu gamping oolitik, dan batuan lain yang mengandung evaporit seperti silvit, halit, barit dan juga gypsum.

4. Batuan Sedimen Vulkanis

Untuk pengelompokkan jenis batuan sedimen selain di dalam ketiga kelompok yang sudah dijelaskan di atas maka akan masuk ke dalam jenis batuan vulkanis. Batuan ini terbentuk karena beberapa hal diantaranya adalah adanya arus piroklastik, breksi vulkanik, breksi impact dan proses lainnya yang jarang sekali ditemukan dan hanya ada pada beberapa kasus saja.

Batuan Metamorf

Jenis batuan ketiga adalah batuan metamorf atau yang juga sering disebut sebagai batuan malihan. Batuan metamorf merupakan sebuah batuan yang mengalami perubahan atau transformasi dari batuan lainnya yang sudah ada sebelumnya dan dibersamai dengan adanya proses metamorfosa sehingga membentuk bentuk baru yang berbeda dengan jenis batuan sebelumnya. jumlah dari batuan metamorf di dalam bumi ini cukup banyak dan pembentukannya sangat mudah karena adanya kedalaman tempat yang sangat dalam, adanya tekanan udara yang sangat rendah atau tinggi dan tekanan dari batuan yang sudah ada di atasnya.

Proses pembentukan batuan metamorf juga bisa terjadi karena adanya tabrakan lempeng benua yang bisa menyebabkan adanya tekanan horizontal, distorsi dan gesekan pada lempeng tersebut. Batuan metamorf juga bisa terbentuk karena adanya pemanasan dari magma yang ada di dalam perut bumi.

Jenis-jenis Batuan Metamorf

Ada beberapa jenis batuan metamorf dan bisa dibedakan menjadi berikut ini:

1. Batuan Metamorfosis Kontak

Proses terjadinya batuan metamorf kontak adalah adanya suntikan magma yang mengenai pada batuan disekitarnya. Perubahan ini adalah perubahan besar dimana hampir batuan yang terkena suhu yang sangat tinggi akan melakukan proses metamorphosis. Karena adanya proses ini juga bisa merubah biji mineral yang ada di dalam batuan. Semakin dekat letak batu dengan magma akan semakin besar pula proses perubahannya dibandingkan dengan batuan yang letaknya jauh dari magma.

Ketika batuan mengalami kontak dengan magma juga mengakibatkan permukaan mineralnya menjadi lebih keras. Istilah untuk menyebut batuan yang telah mengalami proses metamorphosis ini biasanya disebut dengan batu tanduk (hornfless).

Sponsors Link

2. Batuan Metamorf Regional

Batuan metamorf regional merupakan sebuah kumpulan batuan metamorf dalam ukuran yang cukup besar dan luas. Sebagian besar batuan di bawah kerak bumi merupakan batuan metamorf yang mengalami proses metamorphosis ketika terjadinya tabrakan lempeng benua ini. biasanya batuan metamorf ini akan ada disepanjang sabuk karena adanya tekanan suhu udara yang tinggi sehingga mengakibatkan batuannya mengalami perubahan struktur di dalamnya. untuk batuan metamorf regional ini contohnya adalah singkapan marmer yang sangat luas di Amerika Serikat.

3. Batuan Metamorf Katalakstik

Batuan ini terjadi karena adanya proses mekanisme deformasi mekanis. Jadi, ketika ada dua lempeng yang saling bergesekan maka akan menghasilkan panas yang sangat tinggi, nah bagian yang masih mengalami gesekan tersebutlah yang akan mengalami perubahan struktur di dalamnya. batuan tersebut juga biasanya akan hancur terlebih dahulu karena adanya tumbukan atau gesekan tertentu yang sangat lama dan kuat. Pada proses ini tidak biasanya terjadi pada zona sempit dimana terjadi pergerakan sesar secara mendatar.

4. Batuan Metamorf Hidrotermal

Batuan ini terjadi karena adanya perbuhana suhu dan tekanan udara yang sangat drastis Karena adanya cairan hidrotermal. Contoh dari batuan ini adalah batuan basaltic dimana didalam batuan tersebut memang sangat kekurangan cairan hidrat. Hasil endapan dari batuan ini akan bercampur dengan unsure-unsur lainnya seperti talk, klorit, tremolit, aktinolit dan lainnya. biasanya jika endapan terdapat bijihnya berarti merupakan batuan metamorf hidrotermal.

5. Batuan Metamorf Tindihan

Seperti dengan namanya batuan metamorf tindihan ini merupakan hasil dari batuan yang tertimbun dalam kedalaman yang sangat dalam hingga mencapai perubahan suhu yang sangat drastis. Pada fase ini biasanya di dalam batu akan muncul sebuah mineral baru dan biasanya yang paling banyak dihasilkan adalah mineral zeolit. Batuan ini bisa berubah menjadi batuan metamorf regional jika terjadi perubahan suhu dan tekanan yang terjadi secara terus menerus.

6. Batuan Metamorf Dampak

Untuk batuan metamorf jenis ini terjadi karena adanya suatu kejadian seperti ketika meteor atau komet yang jatuh ke bumi hingga menyebabkan ledakan. Hal ini juga bisa terjadi karena adanya gempa bumi atau karena adanya letusan gunung api yang sangat besar. Karena adanya kejadian tersebut maka mengakibatkan tekanan yang sangat tinggi pada batuan-batuan yang terkena dampak dari kejadian tersebut. Tekanan ini mengakibatkan adanya perubahan mineral di batuan yang sangat tinggi seperti koesit dan stishofit. Selain itu batuan juga bisa berubah bentuk menjadi kerucut yang terpercah-pecah. (baca : penyebab gunung meletus)

Itulah tiga jenis jenis batuan yang menyusun bumi yaitu batuan beku yang letaknya paling dalam, kemudian batuan sedimen dimana merupakan endapan dari batuan yang ada sebelumnya serta batuan metamorf dimana batu ini merupakan bentuk lain dari batu yang telah bertransformasi menjadi bentuk dan struktur yang berbeda-beda di dalamnya. batuan ini tentunya sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup di bumi dan menjadi bidang ilmu yang sangat menarik untuk dipelajari. Sekian dan terima kasih.

Sponsors Link

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, , ,
Post Date: Wednesday 03rd, February 2016 / 04:51 Oleh :
Kategori : Ilmu Bumi