Pengertian Alterasi Mineral – Proses – Contohnya

Alam memberikan segala bentuk sumber dayanya yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Baik itu dalam bentuk logam maupun bukan logam. Jika kita membicarakan mengenai logam, pasti memiliki keterkaitan dengan alterasi. Alterasi sendiri merupakan proses perubahan komposisi mineralogi batuan dalam kondisi padat, sebagai akibat adanya pengaruh suhu dan tekanan tinggi serta tidak dalam kondisi isokimia, sehingga menghasilkan mineral berupa lempung, oksida, kuarsa, atau sulfida logam. Proses alterasi adalah suatu tahapan sekunder, sangat berbeda dengan metamorfisme yang termasuk ke dalam tahapan primer.

Sedangkan untuk alterasi mineral yaitu mengacu pada segala sesuatu yang berhubungan dengan proses alam dalam mengubah komposisi kimia mineral atau kristalografi. Dalam hal ini hukum – hukum termodinamika sangat penting dan erat kaitannya dengan konservasi energi, relevan dengan lingkungan, terbentuk katalis, dan yang paling sering ditemukan yaitu pengaruh dalam bentuk air. Seperti yang telah di singgung di atas, jika alterasi mineral sangat berbeda dengan alterasi batuan pada proses metamorfisme. Tidak hanya itu saja, proses alterasi mineral juga memiliki perbedaan dengan proses pelapukan. Akan tetapi kedua proses tersebut sama – sama membantu dalam proses alterasi mineral.

Beberapa contoh proses alterasi mineral yakni:

  • Oksidasi, bisa ditemukan saat mineral besi (Fe) yang terdapat di alam seperti FeS2 (pirit) mengalami oksidasi menjadi mineral goetit atau besi hidroksida.
  • Kaolinisasi, proses alterasi mineral alkali felspar yang mengalami perubahan menjadi mineral lempung kaolinit dan bisa diketahui dengan munculnya larutan sedikit asam. Proses kaolinisasi banyak ditemukan pada batuan granitik dengan jumlah mineral alkali felspar cukup tinggi.
  • Dolomitisasi, proses yang mengacu pada kelompok batuan sedimen karbonat yang memiliki kandungan kalsit sangat tinggi seperti pada batu gamping. Batu gamping tersebut berubah menjadi batuan dolomit yang kaya akan magnesium. Dalam hal ini terdapat proses diagenesis yang menjadi penyebab utama dan melibatkan sejumlah air bersuhu tidak terlalu panas.

Berikut ini beberapa contoh mineral yang dapat terbentuk dari proses alterasi yakni:

  1. Actinolit/ Ca2(Mg,Fe)5Si8o22(OH)2

Actinolit adalah suatu mineral yang memiliki warna hijau gelap, sistem kristal monoklin, mempunyai belahan sempurna, mengkilap seperti kaca, terdapat cerat berwarna putih, dan berbentuk elongated. Mineral ini terbentuk pada suhu 800 – 900 derajat celcius. Actinolit berasal dari hasil alterasi piroken pada gabro serta diaba di dalam proses metamorfik green schist facies.

  1. Adularia / KalSi3O8

Mineral satu ini memiliki warna putih dengan sedikit merah muda, mempunyai sistem kristal monoklin, belahan 2 arah, kilap seperti kaca, terdapat cerat putih dengan bentuk prismatik. Adularia terbentuk pada suhu 700 derajat celcius sebagai akibat adanya proses hidrotermal dengan suhu rendah berupa urat.

  1. Albite / NaAlSi3O8

Albite bisa diketahui dari warnanya yakni putih dengan sistem kristal triklin, terdapat belahan 3 arah, pecahannya yang tidak rata – konkoidal, mirip kilap kaca dan cerat berwarna putih. Mineral ini terbentuk di dalam suhu 750 – 800 derajat celcius, dan disebabkan adanya proses hidrotermal bersuhu rendah dan juga alterasi dari plagioklas. Sedangkan untuk proses metamorfik berlangsung pada temperatur dan tekanan rendah, serta proses magmatisme dan juga proses albitisasi.

  1. Biotite / K(Mg,Fe)3AlSi3O10(F,OH)2

Mineral ini memiliki ciri khas yaitu berwarna hitam dengan sistem kristal monoklin, mempunyai belahan sempurna, bentuk pecahan tidak rata dengan kilap kaca dan mutiara, terdapat cerat putih berbentuk tabular. Biotite terbentuk di suhu 700 – 800 derajat celcius akibat adanya proses magmatis, metamorf dan juga hidrotermal. Biasanya banyak ditemukan di daerah sekitar magmatis.

  1. Dolomite / CaMg(CO3)2

Hampir sama dengan minerl albite, dolomite juga memiliki warna putih dengan sedikit warna merah jambu namun memiliki sistem kristal heksagonal. Belahan terlihat sempurna dengan pecahan subkonkoidal, kilap seperti kaca dan terdapat cerat putih. Dolomite terbentuk dari proses hidrotermal dengan suhu rendah berupa urat. Mineral ini juga dapat terbentuk di lingkungan laut sebagai proses dolomitisasi batu gamping serta proses metamorfik atau dolostone protoliths.

  1. Epidote / Ca2Al2(Fe3+;Al)(SiO4)(Si2O7)O(OH)

Epidote mempunyai warna khas yaitu kehijauan dengan sistem kristal monoklin. Jika diperhatikan lebih seksama, memiliki belahan cukup jelas yakn 2 arah namun pecahan tidak rata. Terdapat kilap kaca bercerat putih dengan bentuk prismatik. Epidote terbentuk di temperatur 900 – 1000 derajat celcius sebagai akibat dari proses metamorphisme pada fasies green schict dan juga glaucophane schist serta hidrotermal atau propylitic alteration. Pada proses magmatik sendiri sangat jarang menghasilkan mineral epidote.

  1. Garnet / X3Y2(SiO4)3

Mineral yang satu ini memiliki warna yang indah yaitu hijau gelap atau merah gelap dengan sistem kristal rhombic dodekahedron, bentuk belahan tidak sempurna, pecahan konkoidal serta menunjukkan kenampakan tabular. Garnet terbentuk di suhu yang cukup tinggi yaitu sekitar 1.600 – 1.800 derajat celcius dan banyak ditemukan pada zona kontak magmatic plutons bersuhu sangat tinggi, yakni mineralisasi skarn. Tidak hanya itu saja, mineral garnet juga dapat terbentuk akibat proses metamorfisme di lingkungan daerah magmatisme.

  1. Mikrocline (KalSi3O8)

Mikrocline berwarna dominan putih dengan sedikit corak hijau, memiliki sistem kristal triklin dengan belahan 2 arah, pecahan tidak begitu rata, mempunyai kilap kaca mutiara, terdapat cerat putih serta menunjukan bentuk prismatik. Mikrocline terbentuk di suhu 700 derajat celcius sebagai akibat adanya proses magmatik sehingga menghasilkan plutonic rock yang dikenal dengan nama pegmatit. Tidak hanya itu saja mikrocline juga mengalami proses metamorfik bersuhu rendah yaitu gneiss dan schict dan juga proses hidrotermal.

  1. Wollastonite / (CaSiO3)

Mineral ini dapat diketahui dari warnanya yaitu putih dengan sistem kristal triklin, kilap kaca, mempunyai belahan sempurna 3 arah namun pecahan tidak rata, bercerat putih dengan bentuk tabular. Wollastonite terbentuk di temperatur 1.100 derajat celcius, mengalami proses metamorfisem kontak pada calcareous dan marl rocks serta proses metamorfisme regional bertekanan rendah.

  1. Zeolite / Na2Al2Si3O10 – 2H2O

Zeolite berwarna abu – abu keputihan, memiliki sistem kristal monoklin, bentuk belahan sempurna dengan 3 arah, pecahan tidak rata, kilap kaca, terdapat kerat kaca berwarna putih berbentuk elongated – prismatik. Mineral zeolite terbentuk di suhu 600 – 700 derajat celcius sebagai akibat adanya proses hidrotermal yang mengisi urat serta rongga yang terdapat pada batuan beku dan juga mengalami proses metamorpisme burial.

  1. Prehnite / Ca2Al(AlSi3O10)(OH)2

Mineral dengan warna kehijauan ini mempunyai sistem kristal orthorombic dengan belahan sempurna. Pecahannya tidak rata namun terdapat kilap kaca dengan cerat berwarna putih berbentuk tabular. Prehnite terbentuk di suhu 700 – 800 derajat celcius sebab mengalami proses metamorfisme dan juga proses hidrotermal yang mengisi rongga – rongga yang terdapat pada batuan volkanik basalt.

Itulah penjelasan mengenai alterasi mineral dan contohnya. Semoga bermanfaat.

, , ,
Oleh :
Kategori : Geologi