Erupsi Linear : Pengertian, Penyebab dan Akibatnya


Seperti kita ketahui, magma selalu bergerak. Ia bergerak ke segala arah. Pada kasus tertentu pergerakan magma tidak sampai ke permukaan (disebut intrusi magma). Tapi adakalanya energi pergerakan magma cukup kuat, sehiangga magma sampai menembus kerak bumi. Kejadian ini disebut ekstrusi magma. ( Baca : Perbedaan Intrusi dan Ekstrusi Magma )

Ekstrusi atau disebut juga erupsi magma adalah peristiwa keluarnya magma ke permukaan bumi, kemudian membentuk gunung api. Magma di simpan di bawah permukaan bumi di dapur magma. Magma akan naik ke permukaan karena terjadi pergesekan lempeng bumi, tekanan gas yang kuat dan suhu yang tinggi dari magma tersebut. Sehingga mudah menembus batuan di atasnya dan meletus ke permukaan. Proses erupsi magma paling sering disebabkan oleh meletusnya gunung api. Umumnya semakin dalam dapur magma, maka semakin dahsyat letusan magma. Karena memiliki suhu dan tekanan yang lebih tinggi.

Erupsi memungkinkan magma mencuat ke permuakan bumi melalui lava. Biasanya berbentuk seperti semburan api air mancur yang mengandung cairan sedimen. Lava kemudian mengalir seperti air ke tempat yang lebih rendah dan mengalami pendinginan. Lelehan lava yang membeku tersebut lalu bertransformasi membentuk batuan vulkanik dan kaca vulkanik.

Pada kasus tertentu, pergerakan magma bisa sampai ke atmosfer bumi sebagai bagian dari letusan gunung berapi yang dahsyat. Magma ini kemudian membeku di udara dan mengalami pendinginan membentuk batuan vulkanik yang disebut thepra. Di atmosfer, thepra lebih dikenal sebagai abu vulkanik. Kemudian ia jatuh kembali ke bumi dan berubah menjadi batuan apung.

Berdasarkan kekuatan dan tekanan gasnya, erupsi magma dikelompokkan menjadi tiga. Yaitu :

  • Erupsi (ekstrusi ) eksplosif. Memiliki tekanan gas yang kuat, sehingga saat terjadi erupsi magma ke permukaan menimbulkan ledakan atau letusan. Material yang dikeluarkan adalah piroklastik dengan kandungan S1O2 tinggi, Misalnya bom, lapili, debu dan abu. Bentuk volkan adalah sharp cone.
  • Erupsi (ekstrusi) efusif. Memiliki tekanan gas yang kurang kuat, sehingga saat proses erupsi magma terjadi tidak menimbulkan ledakan atau letusan. Tapi hanya berupa lelehan magma yang mengalir ke luar. Material yang dikeluarkan berupa lava yang mengandung S1O2 sedikit. Bentuk volkan yang dihasilkan adalah rounded cone.
  • Erupsi (ekstrusi) campuran. Yaitu kejadian dimana erupsi eksplosif dan erupsi efusif berlangsung secara bergantian. Bentuk volkan yang dihasilkan adalah strato (kerucut)

(Baca juga : Erupsi Eksplosif dan Efusif )

Selain berdasarkan kekuatan tekanan gas tadi, erupsi magma di juga dibedakan berdasarkan tempat terjadinya. Yaitu erupsi linear (celah), erupsi areal dan erupsi sentral. pada artikel ini akan dibahas lebih lanjut mengenai erupsi linear.

Pengertian dan Penyebab Erupsi Linear

Erupsi linear adalah proses keluarnya magma melalui retakan, celah atau patahan yang memanjang. Tempat keluarnya magma akan terlihat seperti garis memanjang, sehingga disebut linear. Erupsi linear akan membentuk deretan gunung api. Peristiwa erupsi linear sangat berhubungan dengan aktivitas yang terjadi kamar magma (magma chamber). Kamar magma berada jauh di bawah permukaan bumi.

Kolam magma yang ada di dalam kamar magma berlapis-lapis. Magma paling pterpadat mengendap ke lapisan paling bawah kamar magma. Sementara yang masih mendekati bentuk asli bergerak bebas ke lapisan atas. Selama jutaan tahun, hanya terjadi intrusi magma (pergerakan tak sampai ke permukaan bumi) yang menghasilkan batuan beku di kamar-kamar magma.

Namun jika kamar magma mendapat tekanan yang lebih besar, akan terbentuk patahan pada lapisan kerak bumi. Patahan yang berbentuk celah-celah panjang itu mengeluarkan lelehan magma yang berbentuk lava. Celah-celah akibat erupsi linear ini juga menjadi cikal bakal barisan gunung berapi. Contohnya adalah Gunung api lakky di Pulau Eslandia yang panjangnya mencapai kurang lebih 30 km. Selain itu bisa juga dilihat pada deretan gunung api yanga da di Jawa Tengah dan Jawa Timur Indonesia.


Hasil Erupsi Linear

Meskipun cakupan wilayahnya berbeda. Ketika terjadi letusan, sebenarnya material yang dihasilkan erupsi linear, erupsi sentral dan erupsi sentral sama saja. Secara garis besar, erupsi gunung api menghasilkan material dalam empat bentuk :

1. Efflata (Piroklastic)

Efflata adalah material padat yang dihasilkan gunung berapi ketika terjadi erupsi magma. Efflata terdiri dari beberapa jenis berdasarkan ukuran dan asalnya. Berdasarkan ukurannya, ada dua jenis efflata. Yaitu bom (efflata yang berukuran kecil) dan lapili (efflata yang berukuran kecil seperti pasir, kerikil dan abu vulkanik)

Sedangkan berdasarkan asalnya, efflata juga terbagi dua macam. Yaitu Efflata allogen dan efflata antogen. Efflata Allogen  berasal dari batu-batuan di sekitar kawah yang terlempar ketika terjadi letusan. Sedangkan Efflata antogen berasal dari dalam saluran tempat keluarnya magma, atau bisa dikatakan hasil dari erupsi magma)


2. Material Cair

Material cair yang dihasilkan letusan gunung berapi terdiri dari lava, lahar panas dan lahar dingin.

  • Lava, yaitu magma yang telah sampai di luar.
  • Lahar panas, adalah lumpur panas mengalir yang tercipta dari magma bercampur air,
  • Lahar dingin, yaitu batu, pasir dan debu di puncak gunung

Lahar dingin akan terjadi ketika hujan lebat. Air hujan akan bercampurdengan debu dan pasir membentuk bubur kental. Cairan ini mengalir dengan deras melalui jurang-jurang dan menyapu bersih semua yang dilaluinya.

3. Ekshalasi

Ekshalasi adalah material hasil letusan gunung berapi yang berwujud gas. Ekshalasi terdiri dari solfatara, fumarol dan mofet.

  • Solfatara (H2S) adalah gas yang keluar dari lubang letusan
  • Fumarol, adalah tempat yang mengeluarkan uap air
  • Mofet adalah tempat yang mengeluarkan karbondioksida (CO2) seperti yang ada di pegunungan Dieng.

4. Nuees Ardentesl Ash Cloud

Nuess Ardentesl Ash Cloud adalah istilah vulkanologi untuk awan panas. Awan panas merupakan adalah gabungan dari batu, kerikil, abu dan pasir yang tersuspensi menjadi massa gas yang sangat panas. Awan panas keluar dari gunung api dan bergerak menuruni lereng gunung karena gravitasi. Mirip seperti lahar dingin, tapi awan panas punya suhu yang luar biasa panas dan berwujud gas. Aliran substansi ini bergerak sangat cepat sekitar 100 km per jam dan bergumul-gumul seperti awan di tepi pegunungan. Secara visual arak-arakan awan panas itu menyerupai sekumulan domba, sehingga penduduk di sekitar gunung merapi menyebutnya whedus gembel. Awan panas sangat mematikan, pergerakannya yang sangat cepat juga memakan banyak korban jiwa.

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, , , , ,
Post Date: Thursday 03rd, November 2016 / 21:01 Oleh :
Kategori : Geomorfologi